AYOJAKARTA.COM — Selain tanda pagar "kabur aja dulu" dan "Indonesia gelap", jagat maya juga harus diramaikan oleh munculnya tagar "kami bersama Sukatani".
Sukatani merupakan grup band beraliran Punk New Wave asal Purbalingga, Jawa Tengah yang sering mengangkat keresahan kaum tani sebagai sumber inspirasi.
Popularitas band Sukatani mendadak melejit usai salah satu single lagunya yang berjudul "Bayar-Bayar Polisi" viral di seluruh platform media sosial.
Dalam lagu tersebut, Sukatani secara terbuka memberikan sejumlah kritik atas kinerja oknum-oknum yang bertugas di instansi kepolisian.
Bagi beberapa kalangan warganet, lirik lagu yang disampaikan Sukatani merupakan foto realitas sosial yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini.
Namun demikian, sejumlah kalangan justru menganggap kritik yang disampaikan Sukatani melalui lagunya justru mendiskreditkan pihak lain sehingga perlu di-takedown.
Buntut perbedaan perspektif tersebut, juga membuat dua perwakilan dari grup band Sukatani menyampaikan permintaan maaf melalui unggahan video.
Selain menyampaikan permintaan maaf, Sukatani juga meminta agar seluruh muatan dalam lagu "Bayar-Bayar Polisi" yang dinilai sudah meresahkan ditarik peredarannya.
Selain itu, Nobi selaku vokalis band yang merupakan guru honorer serta dikenal karena penutup wajah ini juga dinonaktifkan sebagai pengajar.
Menyikapi beredarnya unggahan video berisi permintaan maaf anggota band Sukatani, jutaan warganet meyakini hal tersebut dilatarbelakangi tekanan.
Karena itu melalui tanda pagar atau tagar "kami bersama Sukatani", warganet dari berbagai platform medsos menyatakan dukungan kepada band Sukarani.
Bukan hanya melalui berbagai platform digital, dukungan terhadap Sukatani juga dilakukan oleh sejumlah kelompok dengan menggelar aksi unjuk rasa simpatik.
Sambil menyampaikan dukungan kepada Sukatani dan menyatakan pentingnya kebebasan berpendapat, demonstran juga memberi berbagai jenis sayuran kepada masyarakat sekitar.
Menurut Balqis selaku koordinator aksi, kritik yang disampaikan band Sukatani merupakan bentuk kepedulian terhadap instansi kepolisian untuk melakukan pembenahan.
Sehubungan dengan beredarnya unggahan video permintaan maaf yang menuai berbagai aksi dukungan, Kabid Humas Polda Jawa Tengah memberikan pernyataan.
Menurut Kombes Pol Artanto, kepolisian tidak pernah mendesak kepada band Sukatani untuk mengunggah video permintaan maaf apapun.
Terkait kritik band Sukatani, menurut Kombes Pol Artanto merupakan hal yang patut diapresiasi karena merupakan dorongan untuk melakukan berbagai perbaikan.
Sementara menurut Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan, hak untuk bisa berpendapat hendaknya tidak diartikulasikan sebagai bentuk kebebasan yang absolut.
Menyikapi kisruh band Sukatani dan penghentian terhadap Novi, Fahmi Muhammad Hanif selaku Bupati Purbalingga bersedia memfasilitasi agar Novi bisa kembali mengabdi.***