AYOJAKARTA.COM - Belakangan Mahfud MD kerap menjadi bintang tamu dalam acara talkshow ataupun podcast.
Hal ini tak lepas dari nama dan kariernya yang tengah moncer sebagai Menko Polhukam.
Seperti diketahui, Mahfud MD menjadi salah satu menteri yang getol menguliti kasus korupsi ataupun gratifikasi di pemerintahan.
Kasus yang terheboh adalah transaksi janggal senilai Rp 349 triliun di Kemenkeu.
Atas reputasinya yang dikenal bersih sebagai seorang pejabat, baru-baru ini, Mahfud MD diwawancarai terkait hal tersebut oleh presenter Alvin Adam.
Seperti dikutip ayojakarta.com dari Instagram @kepoin_trending pada Rabu (3/5/2023) berikut ini.
"Kalau disebut Mahfud MD itu orang bersih, rasanya gimana?" tanya Alvin Adam.
Baca Juga: Sosoknya Dianggap Bersih oleh Masyarakat hingga Masuk Bursa Cawapres, Mahfud MD: Saya Berhati-hati!
Pada Alvin Adam, Mahfud MD mengaku tak berani mengklaim dirinya bersih.
Namun selama ini yang ia lakukan selalu berusaha untuk bersih.
Untuk hasilnya ia menyerahkan kepada masyarakat untuk menilai dan Tuhan yang menentukan.
"Saya tidak berani mengklaim diri saya bersih tapi bahwa saya berusaha untuk bersih. Berusaha itu sudah cukup. Bersih betul itu biar masyarakat yang menilai, Tuhan yang menentukan," jawabnya.
"Kalau berusaha betul, hati-hati ya saya lakukan itu.
Baca Juga: Kupas Tuntas, Mahfud MD Masuk Bursa Cawapres hingga Dijodohkan dengan Prabowo, Ini Tanggapannya!
Dalam wawancara tersebut, Mahfud MD juga ditanya alasannya memilih jurusan hukum.
"yang bikin profesor milih hukum apa?" tanya Alvin Adam lagi.
Ia pun berkisah, saat SMA merasa kagum dengan guru-gurunya yang pandai menerangkan tentang pentingnya ilmu hukum.
Dari situlah, ketertarikan Mahfud MD pada hukum berawal dan akhirnya masuk fakultas tersebut.
"Jadi yang menyebabkan saya ingin jadi hukum itu karena saya waktu SMA itu kagum pada guru-guru saya yang jaksa, hakim, pengacara. Itu pinter-pinter gitu menerangkan hukum, ini penting hukumnya itu, saya masuk Fakultas Hukum," cerita Mahfud MD.
Baca Juga: Mahfud MD Buka Suara Terkait isu Cawapres Setelah Pertemuannya Dengan Prabowo
Namun setelah lulus, Mahfud MD justru merasa kecewa karena apa yang ia pelajari dengan realita jauh berbeda.
"Tapi sesudah saya lulus Fakultas Hukum, saya marah kepada hukum, hukum ini bohong saya bilang. Saya belajar hukum lima tahun, pasalnya begini tapi kok tidak adil, masyarakat ini gitu," imbuhnya.
Ia pun penasaran kenapa hukum bisa kalah dengan politik sehingga saat S2 ia tak lagi mengambil hukum melainkan ilmu politik.
"Sehingga ketika saya sebagai dosen disuruh ngambil pasca sarjana karena syaratnya kan dosen harus ke S2 S3 ambil pasca sarjana, saya nggak mau ambil hukum," tambahnya.
Baca Juga: Soal Kelanjutan RUU Perampasan Aset, Mahfud MD Sebut Presiden Butuh Waktu untuk Lakukan Ini
Saat belajar ilmu politik inilah, Mahfud MD berguru pada nama-nama besar seperti Amien Rais, Sofyan Effendi dan lainnya.
"Kenapa? hukum tuh bohong semua. Saya mau tahu kenapa hukum tuh kalah dengan politik. Saya masuk ilmu politik S2-nya. Di situlah guru saya, Amien Rais, Sofyan Effendi, Illas Ulama, Yahya Muhaimin. Itu guru saya semua tuh di bidang ilmu politik, ada Avan Gava, Iswanda Hemawan orang hebat-hebat di masanya. Di langit Indonesia kan mereka yang hebat, saya belajar dari mereka," terangnya.
Setelah menempuh S2, barulah Mahfud MD paham kenapa hukum bisa kalah dengan ilmu politik.
Saat pendidikan S3, ia kembali ke ilmu hukum guna mempertemukan kedua ilmu yang telah dipelajarinya tersebut dan memunculkan produk baru bernama politik hukum.
"Saya ingin tahu kenapa hukum kalah dengan politik, nah di situlah lalu saya tahu bahwa memang hukum itu kan memang dibuat oleh politik. Energi politik jauh lebih besar dari energi hukum sehingga pada saat S3 saya kembali ke ilmu hukum mempertemukan dua ilmu ini yaitu ilmu politik hukum, mempertemukan ilmu politik bagaimana ilmu hukum bagaimana produknya itulah politik hukum," pungkasnya.***