AYOJAKARTA.COM – Keputusan soal honorer tidak akan menerima THR Lebaran 2023 terus jadi polemik.
Penetapan honorer yang tidak akan mendapat THR Lebaran 2023 tersebut disampaikan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) yaitu Abdullah Azwar Anas
“Kalau honorer nggak (dapat THR), jadi ini yang diatur oleh kita (untuk pembayaran THR) inikan yang PPPK,” kata Azwar Anas usai penandatangan SKB 3 Menteri soal penetapan cuti bersama pada Rabu (29/3/23).
Baca Juga: Buka Puasa Ada Sunnahnya Loh! Buya Yahya Ungkap Sunnah Nabi Muhammad Ketika Berbuka
Tentu saja keputusan tersebut dinilai sangat tidak bijaksana dan jauh dari rasa keadilan.
Pasalnya honorer juga mengemban tugas dan tanggung jawab yang bisa dibilang hampir sama dengan PNS maupun PPPK.
Di tengah polemic tersebut, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) justru membeberkan kondisi honorer pada masa pemerintahan ayahnya yaitu Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Tanpa bermaksud membandingkan kondisi honorer di masa kepemimpinan Jokowi saat ini, AHY menyebut jika pada masa SBY dulu sebanyak 1,1 juta honorer diangkat jadi PNS.
Baca Juga: PERHATIKAN! 6 Tips Mudik Naik Motor yang Nyaman dan Aman ke Kampung Halaman
“Dulu, saya nggak mau membanding-bandingkan. Tetapi di masa kepresidenan SBY berhasil mengangkat 1,1 juta honorer menjadi PNS,” ujar AHY dilansir dari Republika.co.id pada Rabu (5/4/23).
“Sebetulnya sisanya ga banyak lagi, kurang 400-500 ribu lagi,” lanjutnya.
AHY juga menuturkan jika sejak saat itu atau sudah 8 tahun berlalu tidak ada lagi pengangkatan tenaga honorer menjadi PNS.
Sebab itu, AHY menilai jika hal itu berarti bisa dikatakan tidak ada kenaikan soal kesejahteraan pekerja.
Baca Juga: Lebih Banyak Hal yang Memberatkan, Jaksa Tuntut AG Hukuman Pidana 4 Tahun Penjara, Siapkan LPKA
“Tapi delapan tahun ini tidak ada pengangkatan seperti itu,” kata AHY.
Lebih lanjut ia mengatakan, “Artinya tidak ada peningkatan kesejahteraan bagi pekerja honorer termasuk guru honorer begitu ya.”
Bahkan AHY juga mengaku setiap kali dirinya melakukan safari ke berbagai macam daerah selalu mendapat pertanyaan soal nasib honorer.
“Jadi di sana-sini setiap saya berkunjung mau di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Indonesia bagian timur selalu ada yang bertanya dari guru honorer,” tutur AHY.
“Selalu ada yang bertanya dari tenaga pendidik yang juga kesulitan,” lanjutnya.
Kemudian yang lebih memilukan, AHY menceritakan soal besaran gaji yang diterima oleh para honorer yang ia temui.
“Saya tanya Ibu guru honorer betul, berapa gajinya berapa penghasilannya?” beber AHY.
“Mereka menjawab Rp200 ribu per bulan, itu pun kadang kala nggak otomatis turun, nggak setiap bulan bisa nunda sampai 2-3 minggu kemudian,” pungkasnya.***