AYOJAKARTA.COM - Anies Baswedan mengungkapkan perihal utangnya yang mencapai Rp50 Miliar itu bukan dari Sandiaga Uno, ternyata ada pihak ketiga yang meminjamkannya.
Anies Baswedan mengaku bahwa uang senilai RP50 Miliar adalah bentuk dari dukungan pihak ketiga, saat dirinya dan Sandiaga Uno mengikuti Pilkada DKI Jakarta.
Selanjutnya, dikutip Ayojakarta.com dari kanal YouTube Merry Riana bahwa soal utang Rp50 Miliar Anies Baswedan mengungkapkan bahwa tidak menyebut pihak ketiga yang dimaksud, namun ia mengaku bahwa Sandiaga Uno yang telah menjadi penjamin.
“Ini kan dukungan untuk sebuah kampanye untuk perubahan untuk kebaikan, bila ini berhasil maka itu dicatat sebagai dukungan, bila kita tidak berhasil dalam pilkada maka itu menjadi utang yang harus dikembalikan, jadi itu kan dukungan tuh, siapa penjaminnya? Yang menjamin Pak Sandi, jadi uangnya bukan dari Pak Sandi, jadi ada pihak ketiga yang mendukung, kemudian saya yang menyatakan dan ada suratnya, surat pernyataan hutang,” ungkap Anies Baswedan.
Anies juga menjelaskan bahwa dirinya dan Sandiaga berjanji akan mengembalikan uang Rp50 Miliar tersebut jika kalah dalam Pilkada.
Baca Juga: Kompak! Nonton Konser 3 Dekade Dewa-19, Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan Lantunkan Lagu Ini
“Saya yang tanda tangan. Dan dalam surat itu disampaikan apabila pilkada kalah maka saya berjanji saya dan Pak Sandiaga akan berjanji mengembalikannya,”jelas Anies.
Lain hal dalam isi perjanjian itu, bahwa Anies menegaskan dimana pembayaran utang dilakukan bukan jika menang namun apabila mereka kalah dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 saat itu.
“Yang perlu digaris bawahi kenapa kalah bayar? Biasanya orang berpikir menang bayar. Kalau kalah maka saya akan berada diluar pemerintahan, maka disitu saya cari uang untuk mengembalikan.
mungkin saya bisnis mungkin saya usaha apapun supaya mengembalikan,”lanjut Anies.
Kemudian Anies mengatakan bahwa jika perjanjian menang bayar, maka itu jebakan biaya pilkada yang selama ini ada.
“Kalau saya menang, saya masuk pemerintahan, saya tidak cari uang untuk bayar di pemerintahan untuk bayar itu.
kalau tidak saya harus ngumpulin uang untuk bayar utang, bukankah ini yang menjebak kita selama ini dengan segala macam praktik-praktik fund rising untuk biaya pilkada,”tandasnya.***