AYOJAKARTA.COM - Rentetan gempa bumi yang mengguncang wilayah Indonesia akhir-akhir ini memiliki kekuatan yang cukup besar.
Beberapa gempa bumi tersebut disebabkan tidak hanya karena aktivitas bertemunya tiga lempeng yang berada di Indonesia, namun beberapa disebabkan oleh aktivitas sesar.
Salah satu contohnya adalah gempa bumi yang mengguncang wilayah Kabupaten Cianjur pada November 2022 lalu.
Penyebabnya adalah aktivitas sebuah sesar yang berada di Kecamatan Cugenang.
Aktifnya sebuah sesar memang dapat diteliti oleh para ahli, namun hal yang tidak dapat diprediksikan adalah kapan sesar itu akan menyebabkan guncangan besar.
Beberapa sesar yang berada di sekitar Cugenang diperkirakan ahli dapat menyebabkan guncangan yang sangat besar terutama pada wilayah DKI Jakarta.
Wilayah megapolitan tersebut dikhawatirkan oleh beberapa ahli akan terjadi gempa bumi karena dilewati oleh sebuah sesar yang terpantau aktif yaitu Sesar Baribis.
Dikutip AyoJakarta.com dari YouTube DAAI Magazine pada Senin (2/1/2023), Daryono yang merupakan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG memberikan penjelasan mengenai Sesar Baribis tersebut.
Baca Juga: Gempa M6.8 dari Sesar Lembang Guncang Jawa Barat, Masyarakat Harus Bagaimana?
Ia menjelaskan bahwa keaktifan sesar tersebut telah diteliti oleh beberapa ahli pada tahun 1996 silam.
"Pada tahun 1996 itu ada dua orang peneliti geologi yaitu barber dan simanjuntak menerbitkan sebuah publikasi ilmiah bahwa ada sebuah pergerakan sesar naik yang berarah dari Purwakarta sampai Serang," tutur Daryono.
Meskipun pada awalnya beberapa orang ahli sempat meragukan mengenai keaktifan sesar tersebut, namun pada akhirnya dapat dibuktikan setelah adanya gempa yang mengguncang Bekasi.
"dan ternyata kita mendapati adanya aktivitas gempa di jalur tersebut, ya khususnya di segmen timur ya antara bekasi dan Purwakarta. Salah satu contoh adalah gempa Bekasi yang terjadi pada tanggal 10 Desember 2019, ini berkekuatan 3,2 ini pusatnya di Cibarusah Bekasi," ucap Daryono.
Selain gempa yang terjadi di Bekasi, pada tanggal 4 Januari 2021 juga terdapat gempa bumi lainnya yang menunjukkan keaktifan sesar tersebut.
"Kemudian pada tanggal 4 Januari 2021 itu gempa berkekuatan 2,4 itu berpusat di Jonggol," ucap Daryono.
Beberapa aktivitas kegempaan yang terjadi di jalur sesar tersebut akhirnya membuat peneliti dari ITB melakukan penelitian mulai tahun 2019 hingga 2021.
Hasil penelitian tersebut kemudian menjelaskan mengenai keaktifan sesar yang telah terlebih dahulu diteliti oleh Barber dan Simanjuntak.
"Ini menarik tim ahli dari ITB dan kemudian memanfaatkan data BMKG dan data pemasangan alat mereka sendiri kemudian digabung. Ada sekitar 10 aktivitas gempa tahun 2019 sampai 2021, dan itu gempanya sebenarnya tidak besar berkekuatan 2,3 sampai 3,1. Namun, itu berada pada jalur sesar yang digambarkan oleh Barber dan Simanjuntak pada tahun 1996," jelas Daryono.
Baca Juga: Mengenal Mekanisme Sesar Lokal di Aceh Tengah yang Jadi Penyebab Gempa Bener Meriah 3,7 M Pagi Tadi
Daryono kemudian menjelaskan mengenai jalur sesar lain yang berada di sekitar Jakarta tepatnya di sebelah barat Bekasi.
Menurutnya, jalur sesar tersebut tidak menunjukkan adanya aktivitas gempa, namun terdapat sebuah jalur kuncian yang sedang melakukan akumulasi.
"Namun yang sebelah barat Bekasi tidak ada aktivitas gempanya, BMKG sama sekali tidak pernah mencatat aktivitas gempanya. Tapi hasil monitoring tim peneliti tersebut, ada sebuah peningkatan lini kompresi yang ada di selatan Jakarta dan itu diduga sebagai sebuah zona kuncian sesar dan sedang terjadi akumulasi," jelas Daryono.
Lebih lanjut, Daryono menyebutkan bahwa secara geofisika sesar ini memang terbukti aktif meskipun belum didapatkan rincian jalur sesarnya.
"Terkait dengan informasi hasil kajian ini maka secara geofisika sesar ini terbukti aktif ya tetapi seperti apa rincian jalur sesarnya belum mendapatkannya," pungkas Daryono.***