News

Ahli Psikologi Ungkap Kecerdasan Ferdy Sambo diatas Rata-Rata, Ternyata Faktanya...

Oleh: Arif Rakhmat Prakoso Rabu 21 Des 2022, 14:31 WIB
Ahli Psikologi Ungkap Kecerdasan Ferdy Sambo diatas Rata-Rata, Ternyata Faktanya...

AYOJAKARTA.COM – Sidang lanjutan kasus pembunuhan berencana terhadap Yosua Hutabarat alias Brigadir J pada Rabu, 21 Desember 2022, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menghadirkan saksi ahli yang pada hari sebelumnya berhalangan hadir dalam persidangan.

Saksi ahli yang dihadirkan di persidangan adalah ahli psikologi sekaligus Ketua Asosiasi Forensik Indonesia (Apsifor) Reni Kusumowardhani, serta ahli pidana yaitu Alpi Sahari.

Sementara ahli pidana Effendy Saragih dihadirkan secara virtual dari Kejaksaan Negeri Jambi.

Baca Juga: Jawaban 'Lupa' saat Ditanya Hakim Terpatahkan, Psikologi Putri Candrawathi Ungkap Memorinya Tergolong Baik

Dalam kesaksiannya, Reni Kusumowardhani membacakan hasil asesmen terdakwa Ferdy Sambo, dan mengungkapkan bahwa kecerdasan FS diatas rata-rata, namun memiliki pribadi yang kurang percaya diri dalam memutuskan suatu hal.

“Bapak Ferdy Sambo memiliki kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan abstraksi imajinasi dan kreativitasnya sangat baik”, ucap Reni.

“Secara umum cara berpikirnya lebih ke arah praktis dibanding teoritis dan pola kerjanya tekun motivasi berprestasinya tinggi untuk mencapai target yang melebihi dari target yang diberikan kepadanya, itu secara umum”,

“Dan kemudian tipe kepribadiannya pada dasarnya Bapak Ferdy Sambo ini merupakan individu yang kurang percaya diri dan membutuhkan dukungan orang lain di dalam bertindak dan mengambil keputusan terutama untuk hal-hal yang besar”, ujar Reni,

Baca Juga: Ada Bansos Tambahan Rp600 Ribu! Cair Lagi Desember 2022 Ini, Apakah Kamu Terdaftar? Cek di Sini!

Reni menjelaskan bahwa ada pengalaman kecil yang membuat FS merasa nyaman, apabila ada orang-orang yang melindungi di sekitarnya

“Dalam situasi kondisi normal, Bapak Ferdy Sambo akan terlihat sebagai figur yang baik dalam kehidupan sosialnya dan patuh terhadap aturan norma dapat menutupi kekurangan-kekurangannya dan masalah-masalahnya”,lanjutnya.

Namun, Reni menambahkan informasi bahwa semua itu bukan berarti FS tidak mampu melanggar norma dan menggunakan kecerdasannya untuk melindungi diri apabila dalam situasi yang terdesak.

“Sebagai orang Sulawesi Selatan yang hidup dalam budaya yang teguh memegang budaya Siri Na Pace (menjaga harga diri serta kokoh dalam pendirian) ini memang mempengaruhi bagaimana pertimbangan-pertimbangan keputusan dan emosi serta kepribadian dari bapak Ferdy Sambo”.

Baca Juga: Penting! Pemerintah Tetapkan Kuota dan Jumlah Anggaran, Kartu Prakerja Tahun 2023 Siap Dibuka

“Jadi self-esteemnya mudah (harga dirinya) terganggu apabila dia kehormatannya itu terganggu seperti itu dan kemudian dapat menjadi orang yang dikuasai Emosi tidak terkontrol tidak dapat berpikir panjang terhadap tindakan yang dilakukan”, tambahnya.

Selanjutnya, Reni memaparkan bahwa dalam keadaan normal yang bersangkutan (FS) masih dapat berpikir secara rasional dan dapat mengendalikan dirinya, namun apabila ada hal yang mengganggu FS sulit untuk mengontrol emosinya dengan baik.

“Sehari-hari dalam keadaan normal itu ada upaya-upaya rasional untuk mengendalikan diri tapi di dalam situasi ada hal-hal yang memang mengganggu kondisi emosinya dan self esteemnya nah ini yang kemudian bisa menjadi orang yang sangat dikuasai emosi”, papar Reni.

Reni membenarkan pernyataan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) bahwa FS memang membutuhkan dukungan dan masukkan dari orang-orang sekitarnya yang dia percaya untuk melakukan suatu keputusan besar.***

Reporter Arif Rakhmat Prakoso
Editor Vincensia Enggar Larasati