Otomotif

Amerika Serikat Sudah Mulai Ancang-ancang Bikin Mobil Listrik Tenaga Matahari Impian Prabowo Subianto

Oleh: Katarina Erlita Jumat 20 Mar 2026, 20:11 WIB
Mobil Listrik Tenaga Surya. (Sumber: Chat GPT)

AYOJAKARTA.COM - Ambisi besar Prabowo Subianto untuk membawa Indonesia menuju era kendaraan listrik berbasis energi matahari mulai menemukan titik terang.

Di tengah dorongan transisi energi nasional, perkembangan teknologi global menunjukkan bahwa mobil listrik tenaga surya bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang sedang dipersiapkan.

Presiden Prabowo secara tegas menyatakan keinginannya agar sumber energi kendaraan listrik di Indonesia berasal dari matahari.

Menurutnya, ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti bensin dan solar hanya akan memperpanjang ketergantungan impor energi.

"Saya ingin listriknya itu dari matahari. Kenapa? Kalau kita mau pakai mobil berbahan bakar combustion engine, mobil bensin atau solar, kita tetap bergantung pada impor," tegas Prabowo dalam sesi tanya jawab dengan jurnalis dan ekonom di Hambalang, dilansir dari YouTube Mata Najwa.

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat arah kebijakan energi nasional ke depan, yang tidak hanya berfokus pada elektrifikasi kendaraan, tetapi juga pada sumber energi bersihnya.

Target Ambisius Energi Surya

Pemerintah menargetkan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya mencapai 100 gigawatt (GW) dalam waktu dekat.

Saat ini, kapasitas nasional baru menyentuh sekitar 11 GW. Selain itu, pembangkit listrik berbasis diesel sebesar 13 GW juga ditargetkan untuk dihentikan karena dinilai tidak efisien dan mahal.

Langkah ini dinilai sebagai “game changer” dalam upaya efisiensi energi nasional.

Bahkan, hasil simulasi pemerintah menunjukkan penggunaan kendaraan listrik dapat menekan pengeluaran masyarakat hingga 20 persen.

Amerika Sudah Melangkah Lebih Dulu

Sementara Indonesia masih menyiapkan ekosistem, inovasi mobil listrik tenaga matahari sudah mulai dikembangkan di Amerika Serikat. Salah satu pelopornya adalah Aptera Motors yang berbasis di California.

Perusahaan ini mengembangkan mobil listrik dengan panel surya terintegrasi yang mampu menambah jarak tempuh harian hingga 15–40 mil hanya dari sinar matahari.

Bahkan, dalam kondisi penuh, kendaraan ini bisa melaju hingga 400 mil sekali pengisian daya.

Keunggulan utama teknologi ini bukan hanya pada panel surya, tetapi pada efisiensi kendaraan listrik modern dan sistem elektronik yang mampu mengoptimalkan energi matahari secara maksimal.

Selain Aptera, perusahaan lain seperti Telo Trucks dan DartSolar juga mulai mengembangkan teknologi serupa, termasuk panel tambahan untuk kendaraan listrik yang sudah ada.

Peluang Besar untuk Indonesia

Dengan intensitas sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun, Indonesia sebenarnya memiliki keunggulan geografis untuk mengadopsi teknologi ini.

Jika dikombinasikan dengan kebijakan yang tepat, kendaraan listrik tenaga surya berpotensi menjadi solusi jangka panjang untuk kemandirian energi.

Namun, tantangan tetap ada. Mulai dari investasi infrastruktur, kesiapan industri, hingga adopsi teknologi oleh masyarakat.

Meski demikian, arah kebijakan yang diambil saat ini menunjukkan Indonesia mulai bergerak menuju masa depan energi yang lebih mandiri.

Jika tren global ini terus berkembang, bukan tidak mungkin mimpi besar Prabowo untuk menghadirkan kendaraan listrik berbasis matahari di Indonesia akan menjadi kenyataan dalam waktu yang tidak terlalu lama.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita