AYOJAKARTA.COM - Tesla kembali membuat gebrakan besar terkait fitur bantuan pengemudi.
Mulai awal 2026, pabrikan mobil listrik milik Elon Musk itu secara resmi menghapus fitur Autopilot dari perlengkapan standar Model 3 dan Model Y di Amerika Serikat dan Kanada.
Keputusan ini berdampak langsung pada konsumen yang ingin menikmati pengalaman berkendara semi-otomatis khas Tesla.
Sebelumnya, Autopilot telah menjadi fitur dasar selama lebih dari satu dekade.
Sistem ini menggabungkan Traffic Aware Cruise Control dan Autosteer untuk menjaga kecepatan, jarak aman, sekaligus membantu mobil tetap berada di jalurnya.
Meski masih berada pada level otomatisasi Level 2, Autopilot dianggap sebagai standar kenyamanan bagi pengguna mobil listrik modern.
Kini, Tesla hanya menyematkan Traffic Aware Cruise Control sebagai fitur bawaan.
Artinya, mobil hanya mampu menyesuaikan kecepatan dengan kendaraan di depan tanpa kemampuan penjaga jalur.
Secara teknis, seluruh perangkat keras tetap terpasang, namun fitur kemudi otomatis dinonaktifkan lewat perangkat lunak.
Untuk mengaktifkan kembali fungsi tersebut, konsumen wajib berlangganan Full Self-Driving (FSD) Supervised.
Dilansir dari laman hi.tech.ua, hingga 14 Februari, Tesla masih membuka opsi pembelian FSD satu kali dengan harga 8.000 dolar AS.
Setelah tanggal tersebut, skema pembelian permanen dihapus dan diganti dengan sistem langganan 99 dolar AS per bulan atau sekitar Rp1,6 juta.
Dengan perubahan ini, fitur Autosteer yang sebelumnya gratis kini sepenuhnya masuk ke paket FSD berbayar.
Padahal, lane keeping dianggap sebagai fitur dasar oleh banyak pengguna kendaraan listrik global. Langkah Tesla ini tak lepas dari tekanan regulasi.
Departemen Kendaraan Bermotor California (DMV) menilai penamaan “Autopilot” bersifat menyesatkan karena sistem tersebut belum mampu mengemudi secara otonom.
Tesla bahkan terancam sanksi penangguhan izin dealer akibat klaim iklan yang dianggap berlebihan.
Selain itu, Autopilot dan FSD juga terseret sejumlah kasus kecelakaan fatal dan gugatan hukum bernilai ratusan juta dolar.
Di sisi bisnis, strategi ini dinilai menguntungkan Tesla. Penyederhanaan produk mengurangi risiko hukum sekaligus mendorong pertumbuhan pelanggan FSD.
Elon Musk sendiri menargetkan 10 juta pelanggan aktif FSD seiring penjualan 20 juta unit mobil Tesla.
Bagi calon pembeli, pilihannya kini jelas dan cukup “mahal”. Jika ingin merasakan kembali sensasi Autopilot di jalan raya, Anda harus siap merogoh kocek bulanan atau membeli FSD sebelum opsi tersebut benar-benar hilang.
Alternatif lain, mempertimbangkan merek mobil listrik lain yang masih menawarkan fitur serupa sebagai standar.***

Share this article
Tesla menghapus Autopilot dari fitur standar Model 3 dan Y. Kini pengguna wajib berlangganan Full Self-Driving Rp1,6 juta per bulan imbas tekanan regulasi dan strategi bisnis.