AYOJAKARTA.COM -- Meski masih belum terimplementasi, wacana libur sekolah selama Ramadhan terus mendatangkan polemik dari berbagai kalangan.
Diharap akan memberi banyak dampak positif bagi kehidupan keagamaan di masyarakat, libur sekolah selama Ramadhan mendapat banyak dukungan.
Namun timbulnya kekhawatiran jika anak justru akan semakin banyak menghabiskan waktu bermain gawai, membuat banyak kalangan menolak libur sekolah selama Ramadhan.
Baca Juga: Sekolah Bakal Libur Selama Bulan Ramadhan? Ini Kata Menteri Agama
Libur sekolah selama Ramadhan yang merupakan hal wajar di sekolah madrasah, sempat menjadi kebijakan nasional di era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid.
Terkait dengan wacana libur sekolah selama Ramadhan, Anwar Abbas yang merupakan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia memberi tanggapan.
Adanya kecenderungan untuk mengandalkan atau membatasi proses pendidikan hanya pada instansi pendidikan, menurut Abbas merupakan suatu paradigma yang kurang tepat.
Abbas menambahkan, tempat untuk mendidik setiap manusia bukan hanya berlangsung di ruang kelas sekolah melainkan juga di dalam keluarga dan masyarakat.
Baca Juga: WAH! Jabatan Kepala Sekolah Dihapus? Simak Peraturan MenPANRB Terbaru di Sini!
Wacana libur sekolah selama bulan Ramadhan, menurut Abbas tidak lain merupakan gagasan untuk memperbesar dimensi pendidikan tersebut.
“Oleh karena itu menurut saya anak-anak harus sering dibawa ke tengah masyarakat supaya mereka tahu apa permasalahan di masyarakat,” ungkap Abbas.
Karena siswa akan banyak menyerap informasi dari tempat berbeda, sekolah masih tetap harus melakukan pemantauan terhadap perkembangan siswa.
Bukan hanya pada aspek intelektual, setiap generasi muda Indonesia menurut Abbas juga perlu memahami dan menguasai life skill yang menjadi dasar perkembangan diri.
Baca Juga: Bagaimana Cara Melakukan Sanggah Kuota Sekolah SNBP 2025? Berikut Ketentuannya
Menghadapi bulan Ramadhan tanpa perlu disibukan materi pelajaran, menurut Abbas dapat menjadi momentum bagi anak untuk belajar keahlian tertentu atau sesuai bakat.
“Bulan puasa bisa dijadikan momentum untuk anak-anak punya life skill, sehingga mengubah mental pekerja menjadi mental wirausaha,” tegas Abbas.
Dijadikannya Sekolah, Rumah dan Masyarakat sebagai sentra pendidikan serta dorongan agar siswa memiliki life skill, juga disetujui oleh Koordinator Nasional P2G.
Menurut Satriwan Salim, Perhimpunan Pendidikan dan Guru atau P2G telah memberi formula kepada Kementerian Agama perihal wacana libur sekolah selama Ramadhan.
Baca Juga: Dapodik Semester Genap 2025 Segera Rilis, Simak 6 Informasi Penting untuk Operator Sekolah dan Guru
Tidak sepenuhnya lepas dari intra kurikuler atau pelajaran sekolah, P2G juga menghimbau agar life skill yang merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka dapat diaplikasikan siswa.
Terkait adanya wacana menjadikan Pendidikan Jarak Jauh atau PJJ sebagai solusi, Satriwan tidak sependapat mengingat UNESCO sudah memberi batasan interaksi dengan layar.
“Untuk mewujudkan adanya interaksi langsung antar pribadi, negara maju melarang anak bermain media sosial,” ungkap Satriwan.***