AYOJAKARTA.COM-- Kemampuan bahasa Inggris bukan lagi sekadar nilai tambah. Yang makin dicari justru kualitas pengajarnya, mereka yang mampu mengajar dengan metode teruji, praktik kelas yang kuat, dan standar yang diakui secara internasional.
Cambridge CELTA (Certificate in Teaching English to Speakers of Other Languages) menjadi pembeda. CELTA bukan sertifikat teori mengajar, melainkan kualifikasi yang menempatkan kompetensi pengajar pada ukuran yang jelas. Keterampilan mengajar nyata di kelas, dinilai secara terstruktur, dan dikawal oleh standar Cambridge.
Di Indonesia, program CELTA diselenggarakan oleh UniSadhuGuna Testing Centre (UTC), centre resmi Cambridge English yang berlisensi untuk menyelenggarakan CELTA.
UTC yang merupakan bagian dari ekosistem USG Education telah berpengalaman menyelenggarakan CELTA baik secara luring (tatap muka) maupun daring (online), sehingga aksesnya lebih luas untuk calon pengajar dari berbagai kota.
Sejak berdiri pada tahun 2005, UTC berkomitmen mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui layanan ujian dan sertifikasi berstandar tinggi, mendampingi siswa, tenaga pendidik, dan profesional meraih kredensial global.
“Kami melihat CELTA bukan sekadar sertifikasi, tetapi fondasi profesional bagi para pengajar bahasa Inggris untuk membangun kompetensi, standar pengajaran, dan daya saing internasional," ungkap CEO USG Education, Adhirama G. Tusin dikutip Sabtu, 14 Februari 2026.
Baca Juga: Resmikan Pembukaan Festival Bandeng Rawa Belong 2026, Pramono: Bisa jadi Ruang Penggerak Ekonomi
Inisiatif ini sejalan dengan komitmen kami dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui jalur pendidikan dan sertifikasi global,” ujarnya.
Dalam rilis resmi Cambridge English tanggal 20 Januari 2026, Cambridge melaporkan hasil studi terhadap 200 iklan lowongan pengajaran bahasa Inggris (English Language Teaching/ELT) di 41 negara (periode posting Januari–September 2025).
Hasilnya CELTA diminta pada 63,5% iklan secara global. Hal ini menegaskan bahwa CELTA merupakan salah satu kualifikasi yang paling sering dicantumkan dan menjadi rujukan kuat di pasar kerja internasional.
Baca Juga: Hore! THR ASN, TNI dan Polri Bakal Cair Awal Ramadan, Pemerintah Siapkan Anggaran Rp55 Triliun
Cambridge juga menyoroti bahwa meningkatnya kebutuhan pelatihan guru ELT dipengaruhi oleh permintaan yang besar dan kebutuhan solusi yang lebih fleksibel (termasuk pembelajaran digital).
Intinya, CELTA bukan tren, tetapi respon terhadap kebutuhan nyata di industri, kualitas pengajar yang siap mengajar, lintas konteks dan lintas negara.
Manager UTC, Deddy Mulyadi menyebut program ini menekankan praktik langsung dan refleksi berkelanjutan. “CELTA tidak hanya membahas teori mengajar, tetapi melatih peserta menghadapi situasi kelas yang nyata," katanya.
Dia menjelaskan bahwa peserta mendapatkan umpan balik yang terstruktur, praktik mengajar langsung dengan peserta didik, serta pendampingan tutor berpengalaman.
"Karena itu, lulusannya umumnya lebih siap, percaya diri, dan adaptif saat mengajar di berbagai konteks pembelajaran,” tutur Deddy. Ia menambahkan bahwa pada akhirnya, CELTA membantu pengajar naik level, bukan hanya pada teknik, tetapi pada cara berpikir profesional di kelas.