Sehat

Kenali Gejala dan Penyebab Empty Sella Syndrome Penyakit Langka Ruben Onsu

Oleh: Cita Aryani. M Rabu 27 Jul 2022, 22:50 WIB
Ilustrasi dalam kepala Penyakit Empty Sella Syndrome )

AYOJAKARTA.COM--Belakangan ini Ruben Onsu ramai dibicarakan akibat penyakit yang dideritanya yakni Empty Sella Syndrome. Kebanyakan dari kita mungkin awam dengan penyakit Empty Sella syndrome ini.

Apakah Empty Sella syndrome ini, apa penyebab dan bahayanya?. Artikel berikut akan membahasnya.

Empty Sella Syndrome merupakan suatu penyakit langka yang menyerang otak. Meski sering tidak menimbulkan gejala, penyakit ini bisa saja memburuk seiring berjalannya waktu. Perburukan kondisi dapat ditandai dengan sakit kepala kronis dan gangguan hormon atau penglihatan.

Baca Juga: Dampak Erupsi Gunung Raung, Hujan Abu Vulkanik Hingga Jember Jatim

Sindrom Empty Sella atau Empty Sella Syndrome (ESS) adalah kondisi ketika ukuran struktur tengkorak (sella turcica/sella tursika) mengalami pembesaran.

Sella Turcica sendiri merupakan struktur tulang tempat kelenjar pituitari berada. Fungsinya adalah untuk melindungi kelenjar pituitari.

Sementara itu, Kelenjar Pituitari atau hipofisis adalah kelenjar berukuran kecil yang terletak di dasar otak, di bawah bagian hipotalamus.

Baca Juga: Kenali Gejala Cacar Monyet yang Mirip Cacar Air dan Daftar Orang yang Berisiko Terkena Penyakit Ini!

Empty Sella Syndrome (ESS) adalah masalah kesehatan langka yang terjadi pada sella tursika, yaitu struktur tulang yang terletak di bagian dasar tulang tengkorak dan berfungsi untuk melindungi kelenjar pituitari.

Kebanyakan kondisi ini tidak menyebabkan gejala apapun. Jika muncul gejala, kondisi ini bisa berbeda-beda pada setiap orang. Hal ini bergantung pada usia dan penyebab kondisi. Namun, secara umum, gejala yang bisa terjadi antara lain:

  • Libido menurun.
  • Impotensi.
  • Ketidakteraturan waktu menstruasi, bahkan tidak terjadi menstruasi pada wanita.
  • Sakit kepala

Baca Juga: Gangguan Kecemasan Atau Anxiety Disorder Ternyata Salah Satu Bentuk Penyakit Mental, Kenali Gejalanya!

Sementara itu, ada juga gejala-gejala Empty Sella Syndrome sekunder, di antaranya:

  • Nyeri perut.
  • Letih, lesu.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Tidak tahan dengan cuaca dingin.
  • Penurunan berat badan. Sakit kepala.
  • Tekanan darah rendah.
  • Gangguan penglihatan.
  • Kerontokan pada rambut ketiak atau rambut kemaluan.
  • Jika sindrom ini terjadi pada masa pertumbuhan, tinggi badan biasanya pendek    (<150 cm).

Baca Juga: Mengenal Operasi Bariatrik yang Dijalani Melly Goeslaw, Apa Berisiko ?

Secara umum, ada berbagai gejala pada wanita, pria, dan anak-anak, di antaranya:

  • Wanita: Terhenti nya siklus menstruasi, kemandulan, kegagalan menyusui.
  • Pria: Hasrat seksual menurun, rambut wajah atau rambut tubuh mengalami kerontokan.
  • Anak-anak: Pertumbuhan badan dan perkembangan seksualnya lambat.

Penyakit Empty Sella Syndrome ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Empty Sella Syndrome primer

Hingga kini, penyebab Empty Sella Syndrome primer belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini kerap dikaitkan dengan cacat lahir yang menyebabkan adanya sobekan kecil pada lapisan pembungkus otak.

Kondisi ini akhirnya membuat cairan dalam otak atau serebrospinal bocor dan masuk ke dalam sella tursika, sehingga menyebabkan kelenjar pituitari menyusut dan tidak berfungsi secara normal.

 Baca Juga: 10 Tradisi Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharram di Indonesia, Pawai Obor hingga Mabit di Masjid

  1. Empty Sella Syndrome sekunder

Empty Sella Syndrome sekunder dapat terjadi karena adanya gangguan pada sella tursika atau kelenjar pituitari yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti:

  • Cedera kepala akibat benturan keras atau kecelakaan
  • Terapi radiasi di area kepala
  • Riwayat operasi di bagian kepala
  • Tumor otak
  • Infeksi otak atau ensefalitis
  • Sindrom Sheehan

Sebenarnya, penyakit ini tidak berbahaya selama dikontrol dan diobati sejak dini. Meski begitu, komplikasi yang timbul akibat tekanan pada otak, gangguan hormon, maupun masalah aliran cairan serebrospinal berisiko membuat kondisi penderitanya memburuk hingga berakibat fatal.

Empty Sella Syndrome memang jarang sekali terjadi. Namun, bila muncul keluhan yang menyerupai gejala Empty Sella Syndrome, segeralah periksakan ke dokter. Hal ini dilakukan agar penyebabnya bisa diketahui dan segera ditangani.***

Reporter Cita Aryani. M
Editor Kiki Dian Sunarwati