Sehat

Mengapa Kita Bisa Alami Depresi? Kenali Penyebabnya!

Oleh: Cita Aryani. M Sabtu 23 Jul 2022, 12:00 WIB
ilustrasi depresi

AYOJAKARTA.COM– Rasa sedih atau down adalah  bagian dari kehidupan kita yang muncul ketika kita merasa kecewa atas sesuatu yang tidak sesuai harapan kita. Rasa sedig berkepanjangan tak jarang membuat depresi.

Mungkin kamu pernah dengar kata depresi?.

Depresi bukanlah sesuatu hal yang tabu untuk dibicarakan. Sebab ini adalah salah satu dari penyakit mental.

Baca Juga: Akibat Unggahan Foto, Roy Suryo Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Meme Stupa Mirip Jokowi

Makna ddpresi merupakan gangguan suasana hati yang menyebabkan seseorang terus merasa sedih dan kehilangan minat secara terus-menerus. Depresi biasanya akan mempengaruhi seseorang dalam berpikir dan berperilaku, serta dapat memicu berbagai masalah fisik maupun emosional.

Kondisi ini lebih dari sekadar perasaan sedih yang normalnya dialami orang-orang dengan kondisi mentalnya sehat. Ini karena perasaan sedih sangat sulit untuk disingkirkan sehingga terus menerus menghantui.

Baca Juga: Cara Download Film KKN di Desa Penari Pakai Link Legal Disney Plus, Mudah dan Tidak Ribet!

Sebutan lain untuk penyakit mental ini adalah depresi mayor atau depresi klinis, yang mempengaruhi perasaan, pemikiran, dan perilaku. Tak jarang berdampak menimbukan masalah emosional dan fisik.

Penderitanya bisa mengalami kesulitan melakukan aktivitas normal sehari-hari, karena merasa tak layak menjalani  hidup.

Hingga saat ini, belum diketahui dengan pasti apa penyebab depresi. Namun, penyakit ini dapat dipengaruhi dari berbagai faktor, seperti:

Baca Juga: Viral Nonton Film Horor Ivanna, Penonton Shock Ada  5 Bangku  Kosong Ditutup Kain Putih, Untuk Siapa?  

  1. Perubahan biologis

Orang-orang dengan depresi mengalami perubahan fisik di dalam otak mereka. Perubahan yang dimaksud belum dapat dijelaskan secara pasti.

    2. Ketidakstabilan reaksi kimiawi dalam otak

Dalam suatu penelitian ditemukan jika zat-zat kimia yang terdapat dalam otak mungkin berperan dalam terjadinya depresi. Perubahan dalam zat kimia otak tersebut akan mengakibatkan perubahan kestabilan mood dalam seseorang.

    3. Perubahan hormon

Perubahan dalam keseimbangan hormon di dalam tubuh dapat memicu terjadinya depresi. Perubahan hormon dapat terjadi saat kehamilan, selama beberapa minggu atau bulan setelah persalinan, akibat masalah tiroid, menopause, atau kondisi-kondisi yang lain.

Baca Juga: Syarat Masuk Ke Grand Launching JIS, Lihat Konser Musik dan Pertandingan Persija vs Chonburi FC

  1. Keturunan Keluarga

Depresi lebih sering terjadi pada orang-orang yang dalam keluarga sedarah nya juga memiliki kondisi ini. Para peneliti saat ini masih berupaya untuk menemukan gen yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi.

Selain dari faktor-faktor di atas, beberapa faktor ini juga berpotensi meningkatkan resiko munculnya depresi pada seseorang.

  1. Mempunyai kepercayaan diri yang rendah dan terlalu bergantung pada orang lain, sering menyalahkan diri sendiri, dan pesimis.
  2. Mengalami kejadian yang traumatik atau menegangkan. Misalnya pelecehan seksual atau penyiksaan secara fisik, kematian atau kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang sulit dengan seseorang, atau masalah keuangan.
  3. Mengalami trauma masa kecil atau depresi yang mulai terjadi saat remaja atau anak-anak.
  4. Mempunyai identitas seksualitas berbeda seperti lesbi, homo, biseksual, atau transgender di dalam situasi yang tidak mendukung.

Baca Juga: Jadwal Nonton Konser Virtual BLACKPINK di PUBG Mobile, Jangan Lewatkan !

    5. Mempunyai gangguan mental lain, seperti gangguan cemas, gangguan makan, atau               pasca trauma.

    6. Ketergantungan terhadap alkohol atau obat-obatan terlarang

    7. Penyakit kronik atau penyakit serius, termasuk kanker, stroke, nyeri kronik, atau                  penyakit jantung

    8. Sedang dalam pengobatan tertentu, seperti mengonsumsi beberapa obat hipertensi              atau obat tidur. Beberapa ahli menemukan hubungan depresi dengan konsumsi obat-            obatan kimiawi tertentu. Sebaiknya bicarakan dengan dokter sebelum menghentikan             pengobatan apapun.

Reporter Cita Aryani. M
Editor Kiki Dian Sunarwati