Sehat

Peresmian Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue: Pengendalian Dengue Membutuhkan Strategi Terintegrasi

Oleh: Birny Birdieni Senin 29 Sep 2025, 15:54 WIB
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersama Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan dengan dukungan Takeda berupaya menghadirkan mekanisme pemantauan efektifitas vaksin dengue yang lebih sistematis. (Dok Birny Birdieni)

AYOJAKARTA.COM-- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, drg. Ani Ruspitawati, M.M. diwakili oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Ovi Norfiana, M.K.M., menyampaikan bahwa dengue adalah tantangan kesehatan yang terus kita hadapi setiap tahun dengan dampak yang signifikan bagi masyarakat Jakarta.

"Tahun ini, sampai dengan tanggal 22 September saja, DKI Jakarta mencatat jumlah kasus dengue sebanyak 7.274 kasus dengan 12 kematian," ungkap dr Ovi dalam acara Peresmian Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Jakarta, Senin, 29 September 2025.

Baca Juga: Paljaya Siap Wujudkan Jakarta Sebagai Kota dengan Sanitasi Aman Berkelanjutan, Apa yang Dilakukan?

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan berbagai langkah pengendalian, mulai dari program pengendalian vektor nyamuk, seperti 3M Plus dan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (GIRIJ), edukasi masyarakat yang berkelanjutan, hingga intervensi berbasis teknologi.

"Tapi, kami menyadari bahwa pengendalian dengue membutuhkan strategi yang terintegrasi. Untuk memberikan perlindungan yang lebih optimal bagi masyarakat, diperlukan pendekatan lain yang juga inovatif," jelas dia.

Karena itu, Dinkes DKI Jakarta bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melaksanakan vaksinasi dengue, beserta pemantauan aktif, di Jakarta Selatan sebagai langkah pelengkap.

Baca Juga: Jadwal Pasar Murah di Jakarta 29 September 2025, Ada Paket Promo Spesial Rp50 Ribu, Cek Lokasinya

"Salah satu inovasi yang telah kami terapkan adalah implementasi Wolbachia di wilayah Jakarta Barat, yang menjadi pilot untuk memutus rantai penularan virus dengue," jelas dia.

Menurut dia, inisiatif ini menunjukkan bagaimana strategi berbasis sains dapat melengkapi upaya konvensional yang sudah berjalan. "Tapi, kami menyadari bahwa pengendalian dengue membutuhkan strategi yang terintegrasi," paparnya.

Untuk memberikan perlindungan yang lebih optimal bagi masyarakat, diperlukan pendekatan lain yang juga inovatif. "Karena itu, kami bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melaksanakan vaksinasi dengue, beserta pemantauan aktif, di Jakarta Selatan sebagai langkah pelengkap," jelas dia.

Baca Juga: Soal KLB MBG, Besok Mendagri akan Lakukan Rakor Bersama Menkes, BGN hingga Dikdasmen!

Infeksi dengue masih menjadi beban yang signifikan bagi masyarakat di seluruh dunia, menyebabkan krisis kesehatan yang parah, tekanan ekonomi, dan gangguan sosial.

Insiden dengue meningkat secara signifikan di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir, dengan jumlah kasus yang dilaporkan ke Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) meningkat dari 505.430 kasus pada tahun 2000 menjadi 14,6 juta pada tahun 2024.1

Bahkan, data terbaru yang dipublis oleh National Library of Medicine pada April 2025 lalu menjabarkan tentang prevalensi dengue memperkirakan bahwa 5,6 miliar orang berisiko terinfeksi dengue dan arbovirus lainnya.

Dengue adalah infeksi yang disebabkan oleh virus (DENV), yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus betina yang terinfeksi.

Penyakit ini lebih umum di daerah beriklim tropis dan subtropis. Pada sebagian orang yang mengalaminya, gejala dengue sering kali tidak tampak atau hanya berupa gejala ringan.

Baca Juga: Info Loker: Pamapersada Nusantara Buka Lowongan untuk Lulusan D3, Cek Syarat dan Posisi yang Dibutuhkan

Namun, bagi yang mengalaminya, gejala paling umum adalah demam tinggi, sakit kepala, nyeri badan, nyeri sendi, mual, muntah dan ruam kulit.

Virus dengue terdiri dari empat jenis/serotipe, oleh karena itu seseorang dapat terinfeksi virus dengue lebih dari satu kali, dan infeksi kedua kali dapat meningkatkan risiko terjadinya gejala yang lebih parah.4

Sebagai negara endemis dengue, Indonesia telah melakukan berbagai upaya penanggulangan dengue melalui pengendalian vektor nyamuk secara berkesinambungan sejak tahun 1980. Mulai dari penggunaan larvasida dalam skala besar melalui fogging, hingga penerapan program yang mendorong partisipasi aktif masyarakat seperti Gerakan 3M Plus dan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J).

Baca Juga: Ada Hidden Gem Kuliner Thailand di Kebayoran Baru, Cicipi Lezatnya Sop Daging Pattaya dan Nasi Goreng Tuk Tuk

Untuk itu, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bersama Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan dengan dukungan Takeda berupaya menghadirkan mekanisme pemantauan efektifitas vaksin dengue yang lebih sistematis.

"Kami percaya, dengan langkah ini, kita dapat membangun fondasi yang lebih kuat dan berkesinambungan dalam mengurangi beban dengue di Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga akan dilakukan bersama di beberapa daerah lain yaitu Palembang dan Banjarmasin,” ungkap Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K).

Untuk diketahui, di Indonesia kelompok yang termasuk dalam pemantauan aktif ini adalah 30.000 anak. Dimana di Jakarta Selatan ada 15.000 anak dengan 10.000 yang mendapatkan vaksinasi.

Baca Juga: Tasya Farasya Main Padel Anti Mainstream di Dubai Pasca Gugat Cerai Ahmad Assegaf, Hempas Kesedihan dengan Kemewahan!

Lalu Palembang sebanyak 7.500 anak, dengan 5.000 anak yang mendapatkan vaksinasi. Kemudian Banjarmasin ada 7.500 anak dengan sebanyak 5.000 anak yang mendapatkan vaksinasi selama 3 tahun.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP menegaskan komitmen FKUI dalam pelayanan kepada masyarakat, “Sebagai institusi pendidikan kedokteran, FKUI senantiasa berkomitmen untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia melalui tiga pilar utamanya, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

"Upaya pengendalian dengue merupakan bagian penting dari tanggung jawab kami dalam mengimplementasikan ilmu dan inovasi agar dapat dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat," tegas Prof Ari.

Reporter Birny Birdieni
Editor Birny Birdieni