Sehat

Dianggap Sebagai Cara Bertahan Hidup, Inilah Sederet Fakta Bohong atau Berdusta yang Dapat Jadi Gejala Sakit Jiwa!

Oleh: Karseno AJ Selasa 17 Jun 2025, 07:14 WIB
Ilustrasi - Dianggap Sebagai Cara Bertahan Hidup, Inilah Sederet Fakta Bohong atau Berdusta yang Dapat Menjadi Gejala Sakit Jiwa!

AYOJAKARTA.COM – Demi bisa mendapatkan tujuan atau memenuhi suatu harapan, bagi sebagian orang Bohong atau berdusta merupakan strategi yang wajib dilakukan.

Selain dianggap sebagai cara paling efektif, Bohong atau berdusta bagi sebagian kalangan juga relatif lebih mudah dilakukan daripada berkata jujur.

Merupakan lawan kata dari sifat jujur atau berbicara dan bersaksi sesuai keadaan, Bohong atau berdusta memiliki makna yang berkebalikan.

Baca Juga: KPM PKH dan BPNT Wajib Tahu, Hanya Keluarga Kategori ini yang Bisa Dapat Bansos Hingga Sepuluh Juta!

Perilaku berbohong atau menutupi kebenaran dari orang lain, dapat lahir atau termotivasi karena beberapa hal yang berkaitan erat dengan kondisi diri seseorang.

Saat masih kecil, berbohong umumnya merupakan bentuk perlindungan diri yang lahir karena rasa takut atau untuk menghindari tanggung jawab atas suatu kesalahan.

Disamping sebagai bentuk pertahanan diri karena takut, bohong juga dapat disebabkan karena kebutuhan akan sanjungan, validasi eksternal serta menghindari rasa malu.

Meski awalnya terkesan sepele, kebiasaan berbohong atau menutupi kebenaran akan suatu perkara dari sendiri dan orang lain akan berdampak buruk bagi kondisi jiwa seseorang.

Baca Juga: Akibat Tanah Bergerak Puluhan Rumah di Purwakarta Terdampak, Sekarang Mulai Berpotensi Menghadang Ruas Tol Cipularang

Pernyataan terkait penyebab atau latar belakang seseorang berkata dusta tersebut, merupakan pandangan dari dr. Lahargo Kembaren, SpKJ selaku Spesialis Kesehatan Jiwa.

Perilaku gemar menyembunyikan keadaan atau berbohong yang terus dipelihara sejak kecil, akan sangat berpengaruh dan terus terbawa hingga dewasa.

Dalam cakupan yang lebih luas, kebiasaan menutupi kebenaran atau berbohong dapat mempengaruhi hubungan pribadi, keluarga, persahabatan bahkan masyarakat luas.

Meski dusta merupakan salah satu bentuk afeksi diri, namun kebebasan tersebut dapat mempengaruhi karakter hingga merusak kesehatan jiwa orang yang melakukannya.

Baca Juga: Menanti Gebrakan Presiden Prabowo Subianto, Sastrawan Sosiolog ini Ungkap Empat Alasan Indonesia Belum Juga Sejahtera!

“Perilaku berbohong yang awalnya dilakukan untuk perlindungan diri, jika terus dilakukan akan menjadi nilai hidup dari orang tersebut,” jelasnya.

Selain dapat berkembang menjadi karakter beracun, kebiasaan berbohong yang dilakukan sejak kecil dan terbawa hingga dewasa juga dapat menjadi gangguan kepribadian.

Beberapa jenis gangguan kepribadian yang berawal dari kebiasaan berbohong, menurut dr. Lahargo antara lain Anti Sosial, Borderline atau BPD, hingga Narsisistik.

Individu yang mengalami gangguan-gangguan kepribadian tersebut, selain dapat merugikan diri sendiri juga berpotensi mencemari dan merusak orang-orang baik di sekitarnya.

Baca Juga: Kenapa BSU Periode Juni-Juli 2025 Belum Cair? Ketahui Penjelasan Terkait Mekanisme Penyaluran Bantuan Ini

Dalam spektrum lebih luas, individu yang sering berbohong akan mengalami perilaku tidak seimbang seperti berupaya memaksakan kehendak bahkan tindakan kekejaman.

Fakta lain tentang bahaya berbohong bagi orang yang melakukannya adalah menyebabkan kecanduan, sehingga akan terus mengulangi dan meningkatkan dosis kebohongannya.

“Dopamine itu menyebabkan perilaku compulsif atau berulang-ulang supaya bisa bikin happy,” jelasnya seperti dikutip Ayojakarta dari YouTube Hidup Sehat tvOne. ***

Reporter Karseno AJ
Editor Katarina Erlita