Sehat

BPOM Hentikan Sementara Peredaran Obat Penurunan Panas Praxion Gegara Kasus Baru Gangguan Ginjal Akut

Oleh: Admin Selasa 07 Feb 2023, 11:42 WIB
BPOM Hentikan Sementara Peredaran Obat Penurunan Panas Praxion Gegara Kasus Baru Ginjal Akut

AYOJAKARTA.COM BPOM menghentikan sementara produksi dan distribusi obat penurunan panas Praxion sebagai langkah antisipasi setelah terjadi lagi kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kini masih melakukan investigasi terhadap penyebab dua kasus baru gangguan ginjal akut yang terjadi di DKI Jakarta itu.

Saat ini, seperti dilansir laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), BPOM telah melakukan investigasi atas sampel produk obat dan bahan baku baik dari sisa obat pasien, sampel dari peredaran dan tempat produksi, serta telah diuji di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN).

Sementara itu, industri farmasi pemegang izin edar obat Praxion disebut telah melakukan voluntary recall (penarikan obat secara sukarela).

Baca Juga: Gempa Turki kata Dokter Tifa Bukan Bencana Alam, Tetapi Mungkin Bagian Dari Perang Dunia III, Percaya?

Baca Juga: Cara Mengajukan Pinjaman KUR BRI 2023 Online: Nomor 14 Tentang Hitung Angsuran

Sebelumnya, Kemenkes menerima laporan kasus baru gangguan ginjal akut setelah tidak ada kasus baru sejak awal Desember tahun lalu. Dua kasus itu dilaporkan oleh DInkes DKI Jakarta.

“Penambahan kasus tercatat pada tahun ini, satu kasus konfirmasi GGAPA dan satu kasus suspek” ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. M Syahril, Senin 6 Februari 2023 seperti dilansir laman resmi Kemenkes.

Kemenkes sudah menyampaikan kepada Dinkes Pemda lainnya agar memantau pasien dengan gejala gangguan ginjal akut secara aktif.

Apabila ditemukan kasus GGAPA, Dinkes Pemda diminta segera merujuk ke rumah sakit yang telah ditunjuk Kemenkes untuk menangani pasien gangguan ginjal akut.

Kronologi Kasus Baru GGAPA

Menurut Kemenkes, satu kasus konfirmasi GGAPA merupakan anak berusia 1 tahun, mengalami demam pada tanggal 25 Januari 2023, dan diberikan obat sirup penurun demam yang dibeli di apotek dengan merk Praxion.

Pada 28 Januari, pasien mengalami batuk, demam, pilek, dan tidak bisa buang air kecil (Anuria) kemudian dibawa ke Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta, untuk mendapatkan pemeriksaan, dan pada tanggal 31 Januari mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit Adhyaksa.

Oleh karena ada gejala gangguan ginjal akut, pasien direncanakan untuk dirujuk ke RSCM, tetapi keluarga menolak dan pulang paksa.

Pada tanggal 1 Februari, orang tua membawa pasien ke RS Polri dan mendapatkan perawatan di ruang IGD, dan pasien sudah mulai buang air kecil.

Pada tanggal 1 Februari, pasien kemudian dirujuk ke RSCM untuk mendapatkan perawatan intensif sekaligus terapi fomepizole.

Baca Juga: Kumpulan Pernyataan Mahfud MD Soal Vonis Ferdy Sambo, Richard Eliezer dan Hakim Sidang Pembunuhan Yosua

Baca Juga: Mahfud MD Feeling Vonis Hakim untuk Richard Eliezer Bakal Ringan: Bharada E, Tunggu 15 Februari Ya

Namun 3 jam setelah di RSCM pada pukul 23.00 WIB, kata dr. Syahril, pasien dinyatakan meninggal dunia.

Sementara satu kasus lainnya masih merupakan suspek, anak berusia 7 tahun, mengalami demam pada tanggal 26 Januari, kemudian mengkonsumsi obat penurun panas sirop yang dibeli secara mandiri.

Pada tanggal 30 Januari mendapatkan pengobatan penurun demam tablet dari Puskesmas. Pada tanggal 1 Februari, pasien berobat ke klinik dan diberikan obat racikan.

Pada tanggal 2 Februari dirawat di RSUD Kembangan, kemudian dirujuk, dan saat ini masih menjalani perawatan di RSCM Jakarta. Pada saat ini sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait pasien ini.

Pemerintah melakukan tindakan antisipatif dalam menentukan penyebab dua kasus GGAPA baru yang dilaporkan.

Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan berbagai pihak mulai dari IDAI, BPOM, Ahli Epidemiologi, Labkesda DKI, Farmakolog, para Guru besar dan Puslabfor Polri melakukan penelusuran epidemiologi untuk memastikan penyebab pasti dan faktor risiko yang menyebabkan gangguan ginjal akut.

“Saat ini sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sampel obat dan darah pasien” ungkap dr. Syahril.

Baca Juga: Dr Tifa Bilang Gempa Turki Seperti Peristiwa 911 Bukan Gempa, Mungkin Bagian Dari Perang Dunia III

Kemnekes juga akan mengirimkan lagi surat kewaspadaan kepada seluruh Dinas Kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Organisasi Profesi Kesehatan.

Intinya, Kemenkes meminta kewaspadaan tanda klinis GGAPA dan penggunaan Obat Sirop meskipun penyebab kasus baru ini masih memerlukan investigasi lebih lanjut.

Dengan dilaporkannya tambahan kasus baru GGAPA, hingga 5 Februari 2023 tercatat 326 kasus GGAPA dan satu suspek yang tersebar di 27 provinsi di Indonesia.

Dari sejumlah tersebut 116 kasus dinyatakan sembuh, sementara enam kasus masih menjalani perawatan di RSCM Jakarta.

Reporter Admin
Editor Eries Adlin