SOLO, AYOJAKARTA.COM -- Sprinter tercepat Asia Tenggara asli Solo, Suryo Agung Wibowo kunjungi Museum TitikNol Pasoepati di Nusukan, Solo.
Peraih medali emas SEA Games 2009 tersebut datang mengunjungi pemilik museum yang juga Presiden Republik Aeng-Aeng, Mayor Haristanto, Jumat (5/2/2021).
Kehadiran Suryo Agung tentu saja mengejutkan Mayor yang memang menanti sejak lama. Ke museum, Suryo Agung membawa tiga singlet atlet yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi dunia atletik Tanah Air.
Ketiga singlet tersebut pernah menorehkan sejarah sebagai pelari cepat saat dipakai Suryo Agung mengharumkan nama Indonesia. Singlet pertama dipakai di lintasan 100 meter Olimpiade Beijing 2008, singlet kedua dikenakan saat meraih medali Emas PON 2008 Kaltim dan singlet ketiga dipakai saat meraih emas 100m SEA Games 2009 di Laos.
Saat SEA Games Laos, Suryo Agung mencetak rekor fantastik 10.17 detik. Hingga saat ini, rekor tersebut belum terpecahkan.
AYO BACA : Bambang Pamungkas Hibahkan Jersey Persija Musim 2019 ke Museum Titik Nol Pasoepati
"Ketiga singlet atau Match Worn (MW) ini hanya ‘tilik’ sebentar di museum untuk menengok dan foto bareng satu singlet bersejarah merebut medali emas SEA Games Thailand yang sudah sejak 2007 dihibahkan kepada saya,” terang Mayor, Sabtu (6/2/2021).
Ketiga singlet tersebut, lanjut Mayor, berfoto bersama dengan singlet peraih medali emas yang dikenakan Suryo Agung pada saat SEA Games Thailand 2007.
Pada SEA Games 2007, emas pertama diraih Suryo Agung untuk kontingen Indonesia dengan mencatatkan waktu 10,25 detik. Saat meraih medali emas, singlet dominasi warna putih dan merah dikenakan Suryo Agung. Singlet medali emas tersebut kini sudah disimpan dan dipajang di Museum TitikNol Pasoepati.
Torehan waktu tersebut sekaligus rekor SEA Games yang sebelumnya dipegang sprinter Thailand sejak 1999 yakni Reanchai Seeharwong dengan catatan waktu 10,26 detik.
Sementara pada SEA Games 2009 di Laos, nama Suryo Agung semakin menggaung di pentas atletik Asia Tenggara. Dia meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor nasional atas nama Mardi Lestari yang bertahan 20 tahun, serta rekor baru SEA Games dengan catatan waktu 10,17 detik. Saat itu, Suryo Agung mengenakan singlet warna biru.
AYO BACA : Legenda Timnas Indonesia Hibahkan Sarung Tangan Bersejarah ke Museum Titik Nol Pasoepati
Suryo Agung yang kini sebagai Kasubbid Pengembangan Prestasi Olahraga Daerah Kemenpora tersebut mengaku bangga bisa menyumbangkan salah satu benda bersejarah ke Museum TitikNol Pasoepati.
“Singlet emas SEA Games 2007 warna merah putih sudah saya berikan ke Pak Mayor sejak 2007 sepulang dari Thailand. Ternyata sampai sekarang masih tersimpan rapi, dan bagian dari sejarah olahraga di Indonesia,” tutur Suryo Agung.
Setelah pensiun sebagai atlet profesional, Suryo Agung pernah hijrag sebagai pemain bola profesional pada 2014 dan bermain untuk Persikab Bandung yang bertarung di kompetisi Divisi Utama.
"Semoga museum ini cepat terwujud,” tambah mantan pelari yang lahir 8 Oktober 1983 tersebut.
Museum TitikNol Pasoepati didirikan secara mandiri oleh Mayor Haristanto, yang merupakan Presiden Pasoepati pertama. Di museum ini terdapat memorabilia pesepak bola Tanah Air seperti I Komang Putra, Bima Sakti, Indriyanto Nugroho, Listiyanto Rahardjo, Galih Sudaryono, dan Bambang Pamungkas.
Selain memajang memorabilia atlet nasional, di museum tersebut juga menyimpan benda-benda bersejarah dari suporter sepak bola maupun alat kerja jurnalistik wartawan olahraga yang meliput event olahraga internasional maupun Tanah Air.
AYO BACA : Aksi Tunggal Mayor Haristanto untuk Kampanye Piala Dunia U-20