AYOJAKARTA.COM - Warganet mendadak dibuat heboh dengan munculnya cuitan tentang proyek big data Kominfo.
Cuitan tentang proyek big data Kominfo ini muncul ditengah isu pemblokiran beberapa situs dan aplikasi yang ramai jadi sorotan belakangan ini.
Bahkan, dalam cuitan tentang proyek big data Kominfo disebutkan dana yang digunakan mencapai puluhan miliar rupiah.
Seperti dilansir AyoJakarta.com dari AyoIndonesia.com dengan judul "Bikin Heran, Viral Tender Proyek Big Data Kominfo Senilai Rp31,2 Miliar, Ditengah Isu Pemblokiran".
Cuitan proyek big data Kominfo ini berawal dari cuitan salah satu pengguna Twitter @Sastriyana.
Dalam cuiatannya, akun @Sastriyana menginformasikan soal tender di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang bernilai fantastis.
Baca Juga: Belum Segera Daftar PSE, 7 Situs Masih Diblokir Kominfo. Apa Saja?
"Widih ada tender big data nasional. Rp 31,2 milyar bok. Big data apa nih btw?" tulis caption pada unggahan tersebut.
Dilansir Suara.com, pada unggahan itu terlihat tangkapan layar Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang memperlihatkan kode tender serta tahun anggaran yang digunakan.
Dalam tangkapan layar yang diunggah itu, terlihat bawah Kominfod melakukan tender big data nasional sejak 18 Juli 2022.
Baca Juga: Akses PayPal Dibuka Sementara, Kominfo Minta Masyarakat Pindahkan Dana Segera
Dana yang digunakan untuk tender itu berasal dari anggaran APBN 2022. Sedangkan Kode RUP tender ini adalah 36268031.
Juga disebutkan bahwa nilai pagu paket ini sebesar Rp 61.311.545.000 sedangkan untuk nilai HPS paket yakni Rp 31.297.236.990.
Pada unggahan lain masih bersumber dari akun yang sama juga disebutkan dalam tender big data itu juga masuk anggaran untuk perjalanan dinas.
Baca Juga: Apa Itu Paypal? Aplikasi yang Diblokir Kominfo, Simak Keunggulan dan Kerugiannya di Sini
Sontak saja unggahan ini pun membuat netizen sampai kritik pedas kepada Kominfo.
"Soal subsidi aja guilt trip ke masyarakat ngasih grafik angka-angka beban APBN. I'm speechless," tulis salah satu pengguna Twitter.
"Ektp masih difotocopy, pake bigdata segala," sambung akun lainnya.
"Ada anekdot, "di negeri ini mo data apa aja ada, cuman satu yg gak ada.. Yakni data valid" timpal akun @sum*** (AyoIndonesia.com)