AYOJAKARTA.COM -- Advanced Air Mobility (AAM) menjadi sorotan utama dalam dunia transportasi modern.
Dengan visi untuk menciptakan sistem transportasi udara yang efisien, terintegrasi dan berkelanjutan, AAM mencakup berbagai jenis kendaraan udara inovatif dan infrastruktur yang mendukung penerbangan jarak pendek hingga menengah.
AAM ini meliputi aspek penting seperti Urban Air Mobility (UAM), Regional Air Mobility (RAM), aplikasi militer dan keamanan, serta pengiriman barang menggunakan drone.
AAM bukan hanya tentang taksi terbang, tetapi merupakan konsep luas yang mencakup kemajuan teknologi penerbangan, otomatisasi, dan elektrifikasi.
Seiring dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang cepat, Indonesia, khususnya kawasan Jabodetabek, menghadapi masalah kemacetan yang semakin parah.
Tingginya jumlah kendaraan dan mobilitas penduduk telah menciptakan rutinitas kemacetan yang sulit dihindari.
Setelah pandemi Covid-19, situasi ini menjadi lebih buruk dengan kendaraan di jalan yang semakin padat saat aktivitas kembali normal.
Baca Juga: Tips Hidup Hemat di Jakarta dengan Gaji UMR, Pakai Transportasi Umum Penting Banget untuk Dompet!
Dalam konteks ini, AAM menawarkan solusi alternatif yang memanfaatkan ruang udara untuk mengurangi beban di jalan raya.
Meskipun AAM menawarkan banyak potensi, tantangan dalam implementasinya sangat besar.
Beberapa tantangan utama mencakup regulasi dan keselamatan, penerimaan publik terhadap teknologi baru, serta pengembangan infrastruktur yang memadai.
Pemerintah dan badan regulasi perlu menciptakan standar dan peraturan baru untuk memastikan keselamatan penerbangan AAM, sementara masyarakat perlu diyakinkan akan manfaat dan keamanan teknologi ini, termasuk kekhawatiran tentang kebisingan dan privasi.
Komunikasi menjadi kunci dalam keberhasilan AAM. Kendaraan AAM dan UAM dapat dibagi menjadi dua kategori, Unmanned Vehicles (UAV) dan Manned Vehicles.
Stasiun kontrol berbasis darat berfungsi sebagai pusat manajemen, mengelola komunikasi antara kendaraan AAM dan sistem manajemen lalu lintas udara.
Sistem komunikasi ini harus mampu menyediakan konektivitas yang handal dan efisien, menggunakan teknologi terbaru seperti 5G atau bahkan 6G.
Salah satu aspek yang sangat penting adalah sistem komunikasi udara untuk UAV.
Baca Juga: Bukan MRT! Ternyata Ini Jenis Transportasi Umum yang Paling Banyak Dipakai Oleh Warga DKI Jakarta
Komunikasi C2 (Command and Control) antara pengendali dan UAV harus dapat berjalan dengan lancar, baik melalui jaringan 5G maupun sistem komunikasi satelit.
Namun, implementasi frekuensi komunikasi untuk UAV masih menunggu kepastian dari badan internasional terkait keselamatan dan penggunaan frekuensi tersebut.
Secara keseluruhan, AAM diharapkan dapat menjadi bagian integral dari sistem transportasi masa depan di Indonesia.
Dengan investasi yang tepat dalam penelitian dan pengembangan, serta dukungan regulasi yang memadai, AAM dapat membantu mengurangi kemacetan dan meningkatkan mobilitas, membawa Indonesia menuju era transportasi udara yang lebih modern dan efisien.
Baca Juga: Mau Lebih Cepat Pergi ke Ragunan, Jakarta Selatan? Gunakan Beberapa Transportasi Umum Ini!
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, keberhasilan AAM sangat bergantung pada kerjasama antara pemerintah, industri, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang aman dan efisien bagi semua pengguna transportasi.***