AYOJAKARTA.COM - Berbeda jauh dengan perayaan di tahun-tahun sebelumnya, getar-getar perayaan Idul Fitri 1446 H terasa lebih hambar dan datar.
Meski berbagai macam aktivitas fisik dan fenomena tahunan seperti mudik tetap menjadi rutinitas yang menyedot perhatian, vibrasi Idul Fitri 1446 H sedikit mengalami defisit.
Pernyataan terkait adanya pergeseran esensi vibrasi dalam perayaan Idul Fitri 1446 H tersebut merupakan pandangan Sherly Annavita selaku Duta Digital Indonesia.
Disampaikan dalam sebuah wawancara, Sherly menilai perubahan cukup mendasar sedang terjadi bukan saja di Indonesia tetapi hampir seluruh dunia.
Baca Juga: Cara Menjawab Ucapan Idul Fitri dari Rekan Kerja, Formal, Sopan, serta Berisi Doa dan Harapan
Dampak dari berbagai situasi dan fenomena sosial, ekonomi maupun politik yang mengusik kesadaran empirik turut mempengaruhi terjadinya perubahan vibrasi Idul Fitri.
Bagi masyarakat Indonesia, Sherly menganggap vibrasi dan spirit persatuan dalam momen Idul Fitri semakin mengalami penurunan kualitas sejak beberapa tahun belakangan.
Terkait dengan penyebab paling dominan, Sherly melihat adanya penurunan kemampuan daya tahan ekonomi masyarakat sebagai akar persoalan.
Disamping faktor ekonomi, hal esensial selanjutnya yang turut mempengaruhi penurunan vibrasi Idul Fitri 1446 H adalah kondisi sosial serta politik baik dunia maupun Indonesia.
Baca Juga: Sejarah dan Keutamaan Idul Fitri Sejak Zaman Rasulullah SAW
Terlebih karena nuansa Idul Fitri selama beberapa tahun belakangan, lebih didominasi oleh generasi muda dengan kategori Generasi Y maupun Z.
Lebih terbiasa menunjukan perhatian dan pernyataan melalui kanal-kanal digital, kedekatan secara emosional antara sesama manusia menjadi semakin tersapih.
“Misalnya ketemu, ngumpul dengan keluarga besar tetapi masing-masing asyik dengan gadget sendiri sehingga vibes untuk silaturahim berkurang,” jelas Sherly.
Kendati dampak digitalisasi tidak sepenuhnya buruk, Sherly menilai perlu adanya kesadaran dan keberanian dari masing-masing generasi untuk saling terhubung dan tersambung.
Penyebab munculnya jarak yang meregangkan ketersambungan atau penyatuan secara emosional antara individu menurut Sherly karena adanya transisi penempatan vibrasi.
Dari semula yang terletak pada dunia nyata, curahan emosi dan vibrasi Idul Fitri saat ini lebih bergeser ke dunia maya.
Sherly melihat, kehadiran dunia maya selain berpotensi meregangkan hubungan akrab dan dekat juga dapat mempererat hubungan yang jauh.
Melakukan penyeimbangan antara eksistensi di dunia maya dan nyata, menurut Sherly perlu menjadi pekerjaan setiap generasi agar vibrasi Idul Fitri bisa kembali menyala.
Baca Juga: Sepi Auto Nyaman, 7 Tempat Wisata Jakarta Wajib Dikunjungi Libur Lebaran 2025
Guna kembali mempererat hubungan tali kasih, Sherly mengingatkan pentingnya kesadaran dan keikhlasan menikmati pergantian momen di kehidupan nyata.
“Kita perlu mencari titik keseimbangan, equilibrium, nikmati proses dan momennya, karena yang bisa mengontrol adalah diri sendiri,” jelas Sherly. ***