Viral

Momen Pilu Terekam Kamera! Anak Gajah Tewas Tertabrak, Induk Enggan Tinggalkan Jasad

Oleh: Fina Salsabila Aura Selasa 13 Mei 2025, 18:02 WIB
Video viral di media sosial menampilkan pemandangan mengharukan, induk gajah tetap berdiri di samping jenazah anaknya yang tertabrak truk.

AYOJAKARTA.COM -- Pada tanggal 11 Mei 2025, sebuah insiden memilukan terjadi di Jalan Raya Timur Barat Perak, Malaysia, di mana seekor anak gajah tewas setelah tertabrak truk pengangkut ayam.

Video viral di media sosial menampilkan pemandangan mengharukan, induk gajah tetap berdiri di samping jenazah anaknya, bergeming dan menolak untuk meninggalkan lokasi kejadian.

Dalam rekaman yang diambil oleh pengendara mobil yang melewati area tersebut, terlihat jelas sebuah truk berukuran besar dengan bagian depan yang penyok akibat tabrakan, sementara di bawahnya terbaring seekor anak gajah yang telah terkapar tak bernyawa.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Singgung Ketimpangan Fiskal, Senggol Jakarta Harusnya Bisa Gaji Warganya Rp10 Juta per Keluarga

Pengemudi truk tersebut awalnya melihat seekor gajah dewasa yang sedang merumput di bahu jalan sebelah kanan dan menganggap situasi aman untuk melanjutkan perjalanan.

Namun secara tiba-tiba, anak gajah muncul dari hutan di sisi kiri jalan dan mencoba menyeberang, menciptakan situasi di mana pengemudi tidak memiliki cukup waktu untuk menghentikan kendaraannya, mengakibatkan tabrakan fatal yang menewaskan anak gajah tersebut di tempat kejadian.

Direktur Departemen Perlindungan Satwa Liar dan Taman Nasional Perak, Yusuf Syarif, segera mengirimkan tim untuk menangani situasi tersebut, khususnya untuk mengevakuasi induk gajah yang tak kunjung beranjak dari lokasi kejadian.

Baca Juga: Jadwal Pencairan PKH dan BPNT Tahap 2, Benarkah Minggu Ketiga Mei 2025?

Pemandangan induk gajah yang berusia sekitar 25 hingga 27 tahun dengan berat 2,2 ton yang tetap setia mendampingi jasad anaknya membuat petugas tidak memiliki pilihan selain menggunakan obat penenang untuk mengalihkan perhatian induk tersebut dan menariknya kembali ke habitat aslinya di hutan dengan menggunakan kendaraan berpenggerak empat roda.

Kepala Polisi Distrik Gerik, Inspektur Zulkifli Mahmud, dalam penyelidikan awalnya mengungkapkan kronologi kejadian berdasarkan keterangan pengemudi, yang menyatakan bahwa jarak yang terlalu dekat antara munculnya anak gajah dari hutan dan posisi truk membuat pengemudi tidak mungkin berhenti tepat waktu.

Sehingga terjadilah kecelakaan yang berujung pada kematian anak gajah tersebut, sementara jenazah anak gajah yang menjadi korban telah dipindahkan dari lokasi kejadian dan akan dimakamkan oleh pihak berwenang.

Baca Juga: Polri Tangguhkan Penahanan Mahasiswi ITB Pembuat Meme Presiden Prabowo dan Jokowi, Ini Kata Kuasa Hukum

Insiden menyedihkan ini menambah daftar panjang ancaman terhadap keberlangsungan populasi gajah Asia yang saat ini masuk dalam daftar satwa terancam punah menurut Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).

Penurunan jumlah gajah di Asia diakibatkan oleh berbagai faktor kompleks yang saling terkait, termasuk maraknya perburuan liar untuk mendapatkan gading, hilangnya habitat alami gajah akibat deforestasi dan alih fungsi lahan untuk pertanian atau pembangunan infrastruktur, serta meningkatnya konflik antara manusia dan gajah yang seringkali berujung pada kematian gajah seperti yang terjadi dalam insiden ini.

Kejadian tragis di Perak ini memberikan gambaran nyata tentang salah satu bentuk konflik manusia-satwa liar yang terjadi ketika habitat alami satwa terfragmentasi oleh jalan raya yang memotong wilayah jelajah mereka.

Memaksa gajah dan satwa liar lainnya untuk menyeberangi jalur transportasi manusia yang berbahaya, yang tidak jarang berakhir dengan kecelakaan fatal seperti yang menimpa anak gajah malang tersebut.

Baca Juga: Benarkah PKH dan BPNT Triwulan 2 2025 Rp1,2 Juta Sudah Cair? Ini Hasil Pengecekan 5 KKS Berbeda, Mandiri Ada Kemajuan

Hal ini mengingatkan kita semua akan pentingnya upaya konservasi dan perlindungan habitat yang lebih komprehensif untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.***

Reporter Fina Salsabila Aura
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil