AYOJAKARTA.COM -- Menjadi salah satu gunung berapi aktif di Antartika, Gunung Erebus memiliki ketinggian mencapai 3.794 mdpl atau meter diatas permukaan laut.
Pertama kali ditemukan pada 1841 oleh Penjelajah Inggris bernama Captain James Clark Ross, Gunung Erebus dalam mitologi Yunan memiliki personifikasi sebagai Kegelapan.
Penamaan Gunung Erebus sendiri tidak lain hasil adopsi dari nama kapal yang membawa James Clark Ross saat pertama kali menemukannya.
Selain memiliki puncak tertinggi di Antartika, lainnya Gunung Erebus dikenal sebagai gunung berapi aktif yang berada di bagian bumi paling selatan.
Dinamai sesuai nama Penemunya, bersama empat gunung berapi aktif lainnya gunung berapi Erebus berada di Pulau Ross.
Selain menjadi bagian dari Cincin Api Pasifik, gunung Erebus juga menjadi salah satu gunung berapi yang selalu melemparkan magma.
Salah satu keunikan lain mengenai gunung Erebus adalah memiliki kolam lava yang terbilang cukup langka di dunia.
Baca Juga: Tes Penglihatan: Ingin Menguji Kejelian Mata Kamu? Coba Temukan Sebuah Kunci di Antara Mobil Ini
Selain Erebus, kolam lava hanya terdapat di Gunung Kilauea Hawaii, Gunung Erta Ale Ethiopia serta Gunung Nyiragongo di Republik Demokratik Kongo.
Gunung Erebus mulai menjadi perbincangan pada tahun 1979, setelah maskapai penerbangan Air New Zealand mengalami kecelakaan.
Berdasarkan hasil pemantauan lembaga antariksa nasional Amerika atau NASA, di tahun 1991 gunung Erebus semakin menjadi sorotan.
Hal tersebut terjadi usai para peneliti berhasil mengungkap adanya keunikan berupa partikel emas vulkanik yang terjadi di gunung Erebus.
Berbeda dengan kebanyakan gunung berapi aktif pada umumnya saat melontarkan debu vulkanik, gunung Erebus juga membawa partikel-partikel emas ke udara.
Dari hasil penelitian Observatorium Bumi NASA, radius debu logam mulia dari gunung Erebus mencapai jarak 621 mil.
Menurut Philip Kyle yang merupakan peneliti dari Institut Pertambangan dan Teknologi di New Mexico, partikel emas tersebut berasal dari batuan vulkanik.
Setiap harinya, gunung Erebus mampu memuntahkan partikel emas ke udara hingga mencapai 80 gram dengan nilai ekonomis US $ 6.000 atau sekitar Rp96,7 juta.
Meski terdengar sangat menggiurkan, namun masyarakat dunia justru seperti tidak tertarik untuk melakukan upaya penambangan.
Selain karena tingginya biaya operasional untuk melakukan proses pengangkutan, jumlah tersebut juga dinilai kurang signifikan terhadap keberadaan emas dunia.
Disamping itu, kondisi di benua Antartika yang terpencil tentu saja akan menjadi kendala tersendiri bagi siapapun karena minimnya persediaan pangan.
Mengacu pada sejumlah pertimbangan tersebut, tidak mengherankan apabila keberadaan emas di gunung Erebus cenderung diabaikan. ***