AYOJAKARTA.COM - Baru-baru ini, setelah penyelengaraan pemilu pada 14 Februari 2024 hasil real count diduga telah terjadi kecurangan.
Biang kerok kecurangan disebut terungkap langsung dalam situs resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) yaitu melalui Sirekap.
Bambang Widjojanto seorang aktivis dan pengacara Indonesia bongkar dugaan kecurangan pemilu terlebih dalam pilpres 2024.
Sosok yang pernah memimpin Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia tersebut, tak segan mengakui adanya kecurangan pilpres yang saat ini ramai diperbincangkan.
Bambang Widjojanto mengatakan bahwa kecurangan sebenarnya ada beberapa kategori.
"Kecurangan itu sebenarnya ada beberapa kategori mas, pertama yang paling menarik untuk dibicarakan adalah kecurangan yang bisa diverifikasi segera, dan itu bisa masyarakat lakukan," kata Bambang Widjojanto, dikutip AyoJakarta.com dari YouTube Novel Baswedan pada Kamis, 22 Februari 2024.
Ia lantas mengungkapkan bahwa setiap orang bisa dengan mudah mengklarifikasi lewat situs Sirekap.
"Itu berkaitan dengan hasil pemungutan suara, itu sebabnya isu mengenai Sirekap booming di situ, karena orang dengan mudah mengklarifikasi memvalidasi itu yang terjadi, dan itu yang dilakukan," terangnya.
Menurutnya, semua orang umum bisa saja melihat kecurangan yang terjadi pada situs resmi KPU tersebut.
"Artinya yang melakukan itu bukan orang-orang dari koalisi 01-02-03, itu sebagian besar dari masyarakat, yang merasa 'loh kok di C1 hasil seperti ini, kok di suara sahnya sekian', itu bisa diklasifikasi," ungkapnya.
Baca Juga: Anies Baswedan Pernah Sebut AHY Kurang Pengalaman, tapi Jokowi Menunjuknya sebagai Menteri ATR/BPN
"Itu yang menyebabkan menjadi masalah besar," lanjut Bambang Widjojanto
Tak sampai di situ, ia memberikan penjelasan bahwa masyarakat umum tak percaya hasil quick count dan berimbas pada real count.
"Ada ketidakpercayaan soal quick count, berimbas pada real count, itu yang muncul luar biasa, itu sebenarnya kecurangan nomor dua, di tengah," ucapnya.
Selain itu, ia juga mengungkapkan kategori ketiga kecurangan pilpres bisa saja terjadi dengan adanya money politik terlebih soal pembagian bansos yang viral jelang pemilu.
Kemudian, ia mengungkapkan sosok yang paling berpotensi melakukan kecurangan pilpres.
Menurut Bambang Widjojanto tak lain adalah orang yang melakukan penyelenggaraan pilpres 2024.
"Siapanya? Ketika ada di poin yang kedua di pencoblosan itu maka pelakunya itu sebagian besar adalah penyelenggara, atau orang yang berkaitan dengan penyelenggara," ucapnya.
Ia memberikan contoh misalnya ada petugas KPPS yang salah menulis di sistem.
"Misalnya ada KPPS nulis 200, jadi 1200, itu kebanyakan seperti itu," tuturnya.
"Dan kemudian orang mempersalahkan sistem, sistem ITnya," imbuh Bambang Widjojanto.