AYOJAKARTA.COM - Perkembangan dunia digital yang sedemikian cepat dan pesat, membawa peradaban manusia pada istilah Viral.
Dalam rutinitas hidup keseharian, istilah Viral biasanya diperoleh manusia saat berinteraksi dengan dunia maya atau kabar yang beredar dari berbagai platform media sosial.
Sering diterjemahkan secara ringkas dengan sangat populer dan terkenal, istilah Viral juga berdampak menjadi pembatas dan pengelompokan manusia.
Karena alasan genealogi bahasa, bagi sebagian kalangan istilah kata Viral lebih sering diterjemahkan dengan Virus for All atau virus bagi semua.
Sebagaimana dengan lazimnya virus dalam perspektif Virologi yang merupakan agen pembawa patogen penyakit, viral juga dianggap memiliki tujuan serupa.
Semakin viral sebuah peristiwa atau berita, berbagai dampak baik moral, emosional, finansial hingga intelektual yang ditimbulkan juga akan mempengaruhi perspektif pikiran.
Hal tersebut menurut sejumlah kalangan disebabkan karena Viral selalu membutuhkan sejumlah karakteristik agar mampu mendatangkan efek Mengusik.
Selain Velocity atau Kecepatan, Influence atau Pengaruh dan Reach atau Jangkauan, Viral juga memerlukan Attention atau Perhatian serta Longevity atau Ketahanan perhatian.
Bukan saja penting bagi keberlangsungan suatu industri, Viral juga dianggap sangat dibutuhkan oleh segelintir kelompok atau individu untuk menjaga eksistensi.
Sebuah fenomena akan semakin mudah dan bertahan menjadi bagian dari perspektif kolektif, jika karakteristik sekaligus elemen pembentuk kata Viral masih terpenuhi.
Dalam dunia ekonomi dan perdagangan, Viral dapat menjadi senjata paling mutakhir yang bermanfaat dalam upaya pencapaian keuntungan atau strategi pemasaran.
Sementara dalam kacamata politik atau hukum sosial, Viral merupakan sebuah upaya serta strategi agar dapat mendapat kepercayaan publik atau bahkan melanggengkan kekuasaan.
Selain dapat difungsikan atau disesuaikan dengan berbagai kebutuhan, viral juga disebut-sebut memiliki dampak manipulasi yang sangat menyedot emosi.
Memiliki kecenderungan menular sebagaimana karakteristik virus, emosi atau Emotional sering pula diterjemahkan dengan Energi Motion atau Pergeseran Energi.
Berpijak dari perspektif tersebut, cukup banyak warganet yang dengan mudah tersulut emosi usai mengetahui sebuah kejadian sehingga terdorong melakukan penghakiman.
Tanpa pendalaman atau Tabayyun, Viral dan sifatnya yang berpotensi memanipulasi dan mendistorsi sering dianggap sebagai bagian dari negativitas intelektualitas dan spiritualitas.
Bukan sekedar Vanity atau Kesombongan, Illusion atau Ilusi dan Ruin atau Kehancuran, viral juga menyembunyikan elemen Addiction atau Kecanduan serta Lust atau Nafsu.
Melalui berbagai kanal informasi digital, setiap individu dengan berbagai latar pendidikan dan pengalaman bisa dengan mudah menularkan kemurkaan atau kesejukan.
Semisal mata uang Viral mampu menampilkan dua wajah, Ghibah dan Fitnah di satu sisi atau Fitrah serta Hikmah di bagian lainnya. ***