AYOJAKARTA.COM – Setiap kali memasuki perayaan tahun baru Cina atau Imlek, penampakan sosok Barongsai kerap menjadi hal yang menakjubkan.
Selain kemampuannya dalam melakukan aksi akrobatik, kemunculan Barongsai dalam perayaan tahun baru Cina atau Imlek juga memiliki makna khusus.
Bagi masyarakat Tionghoa, perayaan tahun baru Cina atau Imlek bukan sekedar aksi pertunjukan Barongsai atau selebrasi tahunan tetapi juga momen bersyukur.
Baca Juga: Polemik Ulat dan Serangga sebagai Menu di Program Makan Bergizi Gratis, Pengamat Politik Buka Suara
Sebab di setiap momen tahun baru, masyarakat Tionghoa kerap menjadikan perayaan Imlek sebagai sarana untuk saling berbagi.
Melalui aneka hidangan khusus, pernak-pernik dan hiasan sebagai bagian dari perayaan, perayaan hari Imlek menjadi rotasi ekonomi.
Bukan hanya dirasakan oleh para warga Tionghoa, perayaan hari Imlek juga selalu menjadi ajang penting peningkatan pendapatan ekonomi bagi para pengrajin lokal.
Kebutuhan akan hadirnya berbagai jenis atribut maupun pernak-pernik dalam perayaan Imlek, menurut para pengrajin menjadi sarana untuk merapatkan persaudaraan.
Kehadiran Imlek dan segala pernak-pernik di dalamnya termasuk Barongsai, merupakan sebuah anugerah tahunan bagi banyak pihak.
Pandangan terkait makna kebersamaan dalam perayaan Imlek tersebut sempat disampaikan Natala Sumeda, Anggota DPRD Jawa Barat.
Baca Juga: Si Paling Tipis, Intip Review Infinix Hot 50 Pro Plus: HP Rp2 Jutaan Punya Sistem Pendingin Canggih
Keberadaan Barongsai dalam setiap perayaan Imlek, menurut Natala sudah tidak lagi bersifat khusus atau hanya dimiliki masyarakat Tionghoa.
Mulai dari aksi akrobatik, pembuatan Liong atau Macan Barongsai, hingga pertunjukan pementasan sudah banyak dilakukan oleh masyarakat non Tionghoa.
“Barongsai di Indonesia itu tidak lagi dimainkan hanya oleh kaum Tionghoa, tetapi ke seluruh negara,” ungkapnya.
Karena itu, keberadaan sosok Barongsai dalam setiap perayaan tahun baru Cina atau Imlek merupakan isyarat sebagai pemersatu bangsa.
Tidak adanya pakem khusus untuk mempelajari dan memainkan Barongsai di dalam perayaan Imlek, juga dinilai selaras dengan Prinsip Bhineka Tunggal Ika.
Meski berasal dari berbagai latar budaya, agama hingga suku, sosok Barongsai dapat dilakukan oleh siapapun selama mampu menghibur penonton.
Baca Juga: Daftar SNBP UNY 2025? Intip 6 Jurusan dengan Daya Tampung Tertinggi di Universitas Negeri Yogyakarta
Disamping memberi hiburan dengan berbagai atraksi yang menakjubkan, setiap pemain Barongsai juga perlu memahami nilai filosofis di dalamnya.
Sosok Macam atau Liong yang menjadi ikon Barongsai, menurut masyarakat Tionghoa merupakan bentuk keberanian dan simbol keuletan tekad.
Meski harus berputar dan bertingkah sehingga terlihat atraktif, tarian Barongsai selalu menyiratkan usaha keras dalam mendapatkan tujuan.
Setelah berhasil memperoleh tujuan, sosok Barongsai juga mengajarkan pentingnya untuk selalu berbagi sebagai bentuk rasa syukur dan limpahan keberuntungan. ***