AYOJAKARTA.COM- Gagasan Badan Gizi Nasional memasukkan olahan serangga dalam daftar menu program Makan Bergizi Gratis, mendapat beragam tanggapan.
Selain dianggap tidak lazim oleh sebagian kalangan, usulan untuk menggunakan serangga dalam daftar menu Makan Bergizi Gratis juga dinilai keterlaluan.
Namun demikian tidak sedikit pula yang beranggapan, menu serangga sebagai asupan protein dalam program Makan Bergizi Gratis sebagai bentuk kewajaran.
Baca Juga: Si Paling Tipis, Intip Review Infinix Hot 50 Pro Plus: HP Rp2 Jutaan Punya Sistem Pendingin Canggih
Sebab di sejumlah wilayah Indonesia, penggunaan serangga sebagai menu makan harian bukan merupakan hal yang perlu dipersoalkan.
Menurut Dadan Hindayana selaku Kepala BGN, hasil olahan serangga di Indonesia sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat di wilayah Gunung Kidul maupun Papua.
Mengkonsumsi panganan dari menu serangga jenis Belalang bagi warga Gunung Kidul sama halnya dengan Ulat Sagu bagi penduduk di Papua.
Selain Belalang dan Ulat Sagu, sejumlah wilayah Indonesia juga sudah mulai akrab dengan olahan Jangkrik sebagai salah satu makanan ringan, karena sudah diperjual-belikan.
Menyikapi beragam tanggapan terkait penggunaan serangga dalam daftar menu program MBG, Jubir Kantor Komunikasi Presiden memberi pernyataan.
Menurut Adita Irawati, wacana memasukan menu serangga dalam program MBG merupakan alternatif untuk memperoleh asupan protein.
Meski tidak berlaku secara nasional, menu serangga bagi sejumlah wilayah di Indonesia merupakan hal lazim dijadikan camilan atau menu utama.
Karena itu, Adita tidak mempersoalkan apabila menu serangga dalam program MBG diganti dengan sumber asupan lainnya yang sesuai kebutuhan nutrisi.
“Ini solusi alternatif jika memang di daerah tersebut sudah terbiasa mengkonsumsi bahan makanan tersebut, karena ini alternatif protein,” ungkap Adita.
Sehubungan dengan wacana penggunaan serangga sebagai daftar menu, pengamat politik Adi Prayitno memberi tanggapan.
Menurut Adi, polemik yang muncul terkait menu serangga dalam program MBG muncul sebagai akibat pemahaman literasi masyarakat masih belum sepenuhnya mencukupi.
Pemahaman masyarakat yang menyederhanakan definisi bergizi dengan enak, merupakan pokok timbulnya polemik sehingga memerlukan sosialisasi.
Selain perlu memberi edukasi tentang panganan sumber nutrisi dan gizi, masyarakat juga perlu diperkenalkan dengan menu-menu alternatif.
Bukan hanya optimalisasi literasi gizi, kebanyakan masyarakat Indonesia juga tidak mengenal serangga sebagai bagian dari pangan harian.
Sehingga pemahaman masyarakat perihal sumber nutrisi berupa protein tidak selalu datang dari susu, telur, ikan, daging atau pemahaman normatif masyarakat.
“Maka Badan Gizi Nasional harus mampu mensosialisasikan bahwa Belalang, Ulat dan sejenisnya memiliki kandungan gizi yang sama dengan lainnya,” jelas Adi. ***

Share this article
Sehubungan dengan wacana penggunaan serangga sebagai daftar menu, pengamat politik Adi Prayitno memberi tanggapan.