AYOJAKARTA.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan tren pelemahan yang cukup tajam.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 11 Juni 2026, rupiah merosot hingga ke level Rp17.989 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 45 poin dari perdagangan sebelumnya.
Faktor global seperti eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memang menjadi pemicu eksternal. Namun, pakar ekonomi melihat ada masalah serius di dalam negeri.
I Made Budhi P Artha, Head of Global Market Maybank Indonesia, mengungkapkan adanya pergeseran struktur pasar.
Penyebab utamanya adalah kebijakan baru mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Melalui PP Nomor 21 Tahun 2026, pemerintah mewajibkan eksportir menempatkan devisanya di dalam negeri mulai 1 Juni 2026.
Eksportir wajib memarkirkan dolar mereka di bank-bank milik negara atau Himbara.
I Made Budhi P Artha menjelaskan bahwa kebijakan ini memicu "dislokasi" pasokan dolar.
"Terjadi dislokasi, di mana supply-nya terkonsentrasi di 6 bank (Himbara), sementara demand-nya tersebar di 100 bank. Nah kalau gitu kira-kira yang mau beli 100 orang, warungnya cuma 6, kira-kira harganya potensi naik gak? Struktur pasarnya sudah berubah," ujar I Made Budhi P Artha dalam sesi Maybank Journalist Fellowship 2026.
Ia mengibaratkan kondisi ini seperti 100 orang pembeli yang harus mengantre di hanya 6 warung.
Hal ini secara otomatis mendorong kenaikan harga dolar di pasar domestik karena akses yang terbatas.
Selain dislokasi, pasokan dolar di pasar juga berkurang signifikan. Dari total ekspor Indonesia sebesar 240 miliar dolar per tahun, sektor SDA menyumbang sekitar 120 miliar dolar.
Karena sebagian besar dana tersebut wajib disimpan dalam waktu lama, pasokan dolar di pasar seperti "terdiskon" atau berkurang sekitar 25 persen.
"Katakan misalnya di satu pasar, yang tadinya ada barang 100 yang beli 100 juga, tiba-tiba yang jual karena satu dan lain hal gak punya 100 tapi punyanya 75. Kira-kira harganya naik gak? Struktur pasarnya sendiri sudah memberi signal, eh ini bakalan naik," tambah Made.
Penurunan pasokan ini memberikan sinyal kuat kepada pelaku pasar bahwa harga dolar akan terus naik.
Kondisi ini mengubah perilaku para eksportir secara drastis. Para pemegang dolar memilih untuk tidak menjual valuta asing mereka ke pasar.
Mereka lebih suka menyimpan dolar dan melakukan transaksi sell-buy untuk memenuhi kebutuhan operasional rupiah mereka.
"Si eksportir kan dia pegang dolar nih, dia bilang: 'Eh ngapain gue jual ya, mending gue tahan aja dolarnya, nanti kan bakal naik.' Tapi biaya operasional gimana? 'Gue datang aja ke bank, eh saya punya dolar nih, saya pinjem rupiah dong.' Boleh gak gitu? Boleh," beber Made menjelaskan fenomena di lapangan.
Bahkan, bank-bank Himbara yang kini memegang likuiditas dolar besar juga melakukan hal serupa.
Fenomena ini bahkan sudah merambah ke tingkat ritel. I Made Budhi P Artha menyebutkan bahwa permintaan dolar dari nasabah ritel kini hampir setara dengan kebutuhan perusahaan besar seperti Pertamina.
Akibatnya, pasokan dolar yang sudah dipotong 25 persen harus menghadapi permintaan yang sangat tinggi.
Kondisi struktur pasar yang berubah ini akhirnya memaksa Bank Indonesia untuk menghadapi tekanan seluruh pasar sendirian.
"Tiga atau empat hari setelah Gubernur BI dan Kementerian Keuangan bertemu di parlemen, akhirnya dia stop intervensi dari bonds (obligasi). Dia biarin lepas sehingga harga bonds jatuh dan menarik untuk dibeli oleh offshore. Nah, kita menghadapi situasi seperti itu sekarang," pungkasnya.***