AYOJAKARTA.COM - Gejolak ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2026 menuntut sektor perbankan menentukan prioritas bisnis.
Banyak pihak mempertanyakan apakah situasi ini akan membuat industri perbankan mengerem kuota pembiayaan hijau (green financing).
Namun, Maybank Indonesia mengambil sikap tegas. Tantangan ekonomi makro tidak membuat bank ini mengorbankan komitmen lingkungan demi mengejar keuntungan finansial jangka pendek.
"Ada konflik antara profit kita hari ini dengan long term benefit kita. Balancing antara kedua faktor itu memang tidak mudah," ujar Maria Trifany Fransiska, Head Sustainability Maybank Indonesia, dalam acara pelatihan Maybank Journalist Fellowship 2026, Kamis, 21 Mei 2026.
Maria menegaskan ada prinsip-prinsip kaku dalam aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) yang tidak bisa ditoleransi oleh perusahaan.
Salah satunya adalah ketegasan dalam menyaring calon debitur yang akan diberikan pembiayaan.
"Contoh terkait dengan pembiayaan terhadap perusahaan yang melakukan deforestation atau penggundulan hutan gitu. Itu literally gak bisa masuk. Mau seberapa pun nilai investasinya, mau seberapa menguntungkan untuk kita, itu kita tidak bisa masuk," kata Head Sustainability Maybank Indonesia.
Sikap serupa juga diterapkan pada industri energi fosil. Maybank berkomitmen tidak memberikan pembiayaan baru terhadap perusahaan yang pendapatan terbesarnya masih bersumber dari sektor batu bara.
Komitmen Transparansi Melalui Sustainability Report
Bagi Maybank Indonesia, penerapan prinsip ESG bukan sekadar formalitas tahunan.
Langkah ini merupakan instrumen strategis untuk menjalankan bisnis yang transparan dan akuntabel.
Kepatuhan ini juga menjadi pemenuhan kewajiban hukum yang diatur dalam POJK Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan.
"Laporan ini adalah peta komprehensif untuk mengukur dan mengelola dampak operasional terhadap ekonomi, lingkungan, dan sosial. Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan saat ini, kalau bahas sustainability report untuk masa depan anak dan cucu kita," tambah Maria Trifany Fransiska.
Melalui pendekatan sistematis ini, Maybank mencatatkan hasil nyata dalam pelestarian lingkungan.
Bank berhasil memangkas emisi karbon operasional internal sebesar 30,84% hingga akhir tahun 2025.
Langkah ini sejalan dengan target perseroan untuk mencapai netralitas karbon pada 2030 dan emisi nol bersih (net zero) pada 2050.
Reputasi hijau yang kuat ini terbukti mempermudah Maybank dalam meraih pendanaan berkelanjutan dengan suku bunga kompetitif.
Hasilnya, realisasi penyaluran pembiayaan berkelanjutan Maybank Indonesia mampu menyentuh angka Rp8,24 triliun sepanjang tahun 2025.
Share this article
Maybank Indonesia berkomitmen jaga prinsip ESG di tengah gejolak 2026. Bank tegas menolak pembiayaan baru untuk batubara dan deforestasi, serta sukses salurkan kredit hijau Rp8,24 triliun pada 2025.