AYOJAKARTA.COM - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan hebat.
Pada Kamis pagi, 4 Juni 2026, data Bloomberg menunjukkan Rupiah telah menembus angka Rp18.023 per dolar AS.
Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 57 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Kondisi ini tentu memicu kekhawatiran besar bagi para investor dan nasabah perbankan di Indonesia.
Pelemahan ini dipicu oleh berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Secara domestik, inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat naik menjadi 0,28 persen.
Kenaikan harga pangan dan energi menjadi pemicu utamanya. Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia juga menyempit tajam akibat gangguan pasokan global.
Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasar keuangan dunia.
Selain itu, data ekonomi Amerika Serikat yang kuat membuat Bank Sentral AS (The Fed) diprediksi akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Hal ini membuat dolar AS semakin perkasa dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Menghadapi situasi yang menantang ini, Maybank Indonesia melalui unit Wealth Management mengambil langkah proaktif.
Johan Kesuma Harsa, selaku Head, Wealth Management Distribution & Specialists Maybank Indonesia, menekankan pentingnya transparansi kepada nasabah.
Maybank memilih untuk menyampaikan fakta apa adanya daripada sekadar memberikan janji manis.
"Yang kita komunikasikan ke nasabah sebenarnya informasi terkait fakta yang ada. Jadi sebenarnya bukan menenangkan atau memberikan janji-janji pasti aman. Kalau kondisinya lagi tidak baik-baik saja, ya kita akan berbicara apa adanya," ujar Johan Kesuma Harsa dalam sesi Community Financial Services (CFS): Retail & Non-retail Banking.
Sesi tersebut merupakan rangkaian kelas dalam ajang Maybank Journalist Fellowship 2026.
Strategi utama yang ditawarkan Maybank Wealth Management adalah diversifikasi investasi.
Nasabah sangat disarankan untuk tidak menaruh seluruh aset mereka dalam satu jenis instrumen atau satu mata uang saja.
Saat Rupiah melemah, nasabah memiliki pilihan untuk beralih atau membagi aset ke dalam mata uang asing lain, seperti dolar AS.
Johan mengingatkan nasabah agar tetap waspada dan tidak ceroboh dalam mengambil keputusan.
"Kita encourage nasabah itu tidak naruh di satu basket, melainkan diversifikasi. Kita tidak akan menyarankan karena ini Rupiah sedang melemah, yuk kita investasi ke dolar. Jadi nasabah harus tahu profil risiko dari investasi yang dia pilih," jelasnya lebih lanjut.
Menurut Johan, setiap krisis selalu membawa peluang baru. Pasar keuangan tidak bergerak secara linear.
Jika satu sektor atau mata uang sedang terpuruk, sering kali ada instrumen lain yang justru memberikan keuntungan.
Maybank berkomitmen membantu nasabah melihat peluang tersebut berdasarkan kebutuhan pribadi mereka.***

Share this article
Rupiah tembus Rp18.023/USD dipicu inflasi Mei naik 0,28% & suku bunga AS tinggi. Hadapi krisis, Head Wealth Management Maybank Johan Kesuma Harsa sarankan nasabah lakukan diversifikasi investasi.