Ekonomi

Dampak Penurunan Jumlah Pemudik Hingga 50 Juta di Lebaran 2025 Terhadap Ekonomi Indonesia

Oleh: Fina Salsabila Aura Rabu 02 Apr 2025, 10:43 WIB
Ilustrasi. Mudik

AYOJAKARTA.COM - Terjadi penurunan signifikan jumlah pemudik saat Lebaran 2025 dengan prediksi hanya mencapai 147 juta, turun dari 197 juta pada tahun 2024.

Menurut peneliti Yusuf Rendy Manilet, penurunan ini mengindikasikan lesunya daya beli masyarakat yang sudah terlihat sejak sebelum Ramadan.

"Jika data pemudik yang turun ini disandingkan dengan data-data lain yang sebenarnya sudah kita lihat sebelum Ramadan, memang ada indikator terkait daya beli yang turun.

Indeks penjualan ril di bulan Februari mengalami perlambatan dibandingkan posisi yang sama di tahun lalu.

Baca Juga: Cara Menjawab Ucapan Idul Fitri dari Rekan Kerja, Formal, Sopan, serta Berisi Doa dan Harapan

Data yang lebih kuat misalnya angka deflasi untuk komoditas makanan dan minuman juga mengalami penurunan.

Ini seperti anomali karena di tahun-tahun sebelumnya menjelang Ramadan data-data ini mengalami peningkatan," jelasnya.

Faktor utama penyebab penurunan daya beli ini adalah gelombang PHK yang terjadi terutama di industri padat karya, serta masalah fundamental seperti penurunan kelas menengah dan deindustrialisasi dalam beberapa tahun terakhir.

Wakil Ketua Komisi 5 DPR Fraksi PKB, Saiful Huda, menyoroti adanya perubahan pola mudik masyarakat dan tren baru yang disebut "frugal living" sebagai penyebab penurunan jumlah pemudik.

Baca Juga: Sejarah dan Keutamaan Idul Fitri Sejak Zaman Rasulullah SAW

"Ada fenomena menarik, ada kecenderungan pola mudik masyarakat kita yang berubah.

Sampai hari H memang tidak ada lonjakan yang cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Saya melihat ada pola yang berubah, mungkin pasca lebaran plus 2 atau plus 3 mungkin ada yang baru mau melakukan mobilisasi untuk mudik lebaran," ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, "Ada tren baru yang disebut sebagai frugal living, jadi masyarakat kita cenderung untuk menghemat dari situasi mudik lebaran ini.

Menghemat dalam pengertian mereka sengaja untuk tidak mudik dengan pertimbangan ingin menghemat biaya hidup mereka."

Baca Juga: Niat Puasa Syawal Bacaan Arab-Latin dan Artinya, Serta Keutamaannya

Yusuf Manilet menambahkan bahwa tren frugal living ini terkait dengan motif precautionary saving (menabung untuk berjaga-jaga).

Terutama karena masyarakat belum terlalu optimis terkait kondisi ekonomi dalam beberapa bulan ke depan, khususnya bagi kelas menengah yang menyumbang sekitar 50% dari total konsumsi.

Meskipun terjadi perlambatan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2025 diprediksi masih akan tetap tumbuh meski melambat.

Yusuf Manilet memperkirakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga akan berada di kisaran 4,9 hingga 5% pada kuartal pertama.

Baca Juga: Ini Rinciannya! Pensiunan PNS Golongan I- IV Akan Terima Uang Hngga Rp 4 Juta Lebih Pasca Lebaran 2025

"Kalau kita bicara tumbuh atau tidak, tentu kuartal pertama konsumsi akan tetap tumbuh, tetapi pertanyaannya adalah apakah dia akan tumbuh di level optimalnya atau tidak," jelasnya.

Saiful Huda mengakui bahwa pemerintah sedang dalam masa transisi membuat berbagai skema restrukturisasi ekonomi, seperti pembentukan danantara dan skema ekonomi lainnya.

"Tentu kalau ada kontraksi wajar dan terlebih-lebih dipicu oleh suasana ekonomi global yang memang tidak cukup menguntungkan.

Tapi ada catatan penting dari situasi ekonomi global yang begitu tidak menentu, sekali lagi Indonesia termasuk yang cukup terjaga situasi kegiatan ekonominya," ujarnya.

Saiful juga menyebutkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan skema agar kelas menengah mendapatkan insentif lebih banyak, meskipun belum jelas apakah berupa penurunan pajak pendapatan atau stimulus bagi startup.***

Reporter Fina Salsabila Aura
Editor Desi Kris