Gaya Hidup

3 Bagian Otak yang Aktif saat Berbohong, Amigdala Salah Satunya!

Oleh: Salman Muhammad Ilham Senin 15 Jul 2024, 21:50 WIB
Ilustrasi Lying atau Berbohong

AYOJAKARTA.COM - Berbohong adalah perilaku kompleks yang melibatkan berbagai bagian otak.

Proses ini membutuhkan pemikiran cepat, penalaran moral dan pembentukan memori baru.

Artikel ini akan membahas bagian otak yang aktif saat seseorang berbohong yaitu korteks prefrontal, hipokampus dan amigdala seperti dikutip ayojakarta.com dari Instagram @posi.idn, Senin (15/7/2024).

Baca Juga: 5 Fakta Unik Anak Sulung yang Bergolongan Darah O, Ternyata Suka Tak Fokus Kalau Ngobrol?

1. Korteks Prefrontal

Korteks prefrontal adalah area otak yang berfungsi dalam menentukan penalaran moral dan pengambilan keputusan.

Bagian ini berada di bagian depan otak dan memainkan peran penting dalam perencanaan, pemecahan masalah dan pengendalian impuls.

Ketika seseorang berbohong, korteks prefrontal harus bekerja ekstra keras untuk menyamarkan penalaran moral tersebut.

Korteks prefrontal memiliki tanggung jawab dalam mengatur perilaku dan memastikan bahwa tindakan sesuai norma sosial dan etika.

Baca Juga: Dijamin Ampuh Tingkatkan Kecerdasan! Lakukan 5 Cara Menarik Ini Agar Otak Jauh Lebih Cerdas

Namun, ketika seseorang memutuskan untuk berbohong, korteks prefrontal harus menekan penalaran moral dan menghasilkan alasan yang rasional untuk mendukung kebohongan tersebut.

Proses ini membutuhkan banyak energi kognitif dan seringkali memicu aktivitas yang intens di korteks prefrontal.

Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa korteks prefrontal medial khususnya terlibat dalam kebohongan yang lebih kompleks, di mana seseorang harus mengingat informasi yang salah dan menghindari ketidakcocokan dalam cerita yang mereka buat.

Oleh karena itu, aktivitas korteks prefrontal yang meningkat adalah salah satu indikator utama bahwa seseorang sedang berbohong.

Baca Juga: 4 Tanda Otak Kamu Mengalami Brain Fog, Begini Cara Memperbaikinya

2. Hipokampus

Hipokampus adalah bagian otak yang berperan dalam pembentukan memori dan navigasi spasial.

Bagian ini terletak di lobus temporal medial dan sangat penting dalam mengkonsolidasi informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.

Ketika seseorang berbohong, otak harus membuat memori baru berdasarkan kebohongan yang bisa mengganggu fungsi hipokampus.

Berbohong memerlukan pembuatan cerita atau fakta baru yang tak sesuai kenyataan.

Proses ini memaksa hipokampus mengintegrasikan informasi palsu ke dalam memori yang dapat menyebabkan konflik dengan memori yang sebenarnya.

Baca Juga: Kenali Proses Otak Mencintai Lawan Jenis, Laki-laki dan Perempuan Jatuh Cinta, Begini Penjelasan Neurosains!

Kebohongan yang sering diulang dapat memperkuat memori palsu ini sehingga seseorang mungkin mulai mempercayai kebohongan mereka sendiri.

Selain itu, hipokampus juga terlibat dalam mengingat detail spesifik dari kebohongan seperti waktu, tempat dan peristiwa terkait.

Ketika seseorang harus mengingat dan menceritakan kebohongan secara konsisten, hipokampus harus bekerja keras untuk memastikan bahwa semua detail yang diberikan tetap koheren dan masuk akal.

Oleh karena itu, aktivitas hipokampus yang meningkat adalah tanda bahwa otak sedang bekerja keras memproses kebohongan.

Baca Juga: 6 Kebiasaan yang Membuat Otak Semakin Cerdas, Coba Lakukan Hal-Hal Ini

3. Amigdala

Amigdala adalah bagian otak yang berbentuk seperti biji almond dan berperan dalam proses emosional seperti rasa takut, kecemasan dan respons stres.

Amigdala terletak di dalam lobus temporal medial dan sangat penting dalam mengatur emosi dan reaksi terhadap situasi yang menimbulkan stres.

Ketika seseorang berbohong, rasa was-was dan kecemasan yang disebabkan amigdala sering muncul.

Ketika berbohong, amigdala merespons dengan memicu perasaan takut dan cemas karena kita menyadari bahwa kebohongan bisa terungkap dan menimbulkan konsekuensi negatif.

Baca Juga: Edukasi Psikologi: Mengenal Kabut Otak alias Brain Fog, Penyebab dan Solusi yang Tepat

Aktivitas amigdala yang meningkat ini dapat menyebabkan tanda-tanda fisik seperti peningkatan detak jantung, berkeringat dan ketegangan otot.

Ini adalah reaksi alami tubuh terhadap stres yang disebabkan kebohongan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa amigdala memainkan peran penting dalam memproses informasi emosional terkait kebohongan.

Ketika berbohong, amigdala membantu mengevaluasi potensi risiko dan konsekuensi dari kebohongan tersebut.

Oleh karena itu, aktivitas amigdala yang meningkat adalah indikator lain bahwa seseorang sedang mengalami stres emosional akibat berbohong.***

Reporter Salman Muhammad Ilham
Editor Fathul Amanah