Hiburan

Kisah Nyata Diangkat Jadi Film Horor, Begini Kilas Balik Tragedi Kelam Pembantaian Dukun Santet 1998 di Banyuwangi

Oleh: Asti Aureli Septania Senin 12 Mei 2025, 21:20 WIB
Film Pembantaian Dukun Santet yang dirilis pada Mei 2025 mengangkat kisah nyata tragis yang terjadi di Banyuwangi pada tahun 1998.

AYOJAKARTA.COM -- Film Pembantaian Dukun Santet yang dirilis pada Mei 2025 mengangkat kisah nyata tragis yang terjadi di Banyuwangi pada tahun 1998.

Dalam sinopsisnya, film berfokus pada seorang santri bernama Satrio yang menyaksikan pembantaian dan teror yang melanda pondok pesantren tempatnya belajar, di mana guru-guru dan santri menjadi korban tuduhan dan kekerasan misterius.

Film ini juga menampilkan unsur horor supranatural dan konflik batin Satrio saat ia mencoba mengungkap dalang di balik kejadian tersebut sambil menghadapi ancaman terhadap keluarganya.

Baca Juga: Benarkah Tunjangan Sertifikasi Guru di Triwulan 2 2025 Bakal Dicairkan sebesar Rp25 Juta? Cek Faktanya

Namun, siapa sangka, di balik film horor yang disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dan akan dibintangi oleh Aurora Ribero, Kevin Ardilova, dan Kaneishia Yusuf, menyimpan tragedi yang mencekam pada tahun 1998 di Banyuwangi.

Adapun kilas balik dan sisi kelam tragedi Pembantaian Dukun Santet Banyuwangi 1998 yang kini diangkat menjadi film sebagaimana dikutip dari Youtube Kamar Film.

Kilas Balik Tragedi Pembantaian Dukun Santet Banyuwangi 1998

Tragedi pembantaian dukun santet di Banyuwangi pada 1998 yang diangkat menjadi film merupakan peristiwa kelam di mana ratusan orang yang dituduh sebagai dukun santet dibunuh secara brutal dalam rentang Februari hingga September 1998.

Baca Juga: Siap-siap Tisu! Heavenly Ever After Jadi Drakor Paling Menggugah dengan Rating Tertinggi JTBC, Viral Bikin Nangis yang Nonton

Kelompok orang berpakaian hitam melakukan pembunuhan terhadap mereka yang dianggap dukun santet, bahkan terhadap orang yang tidak bersalah sekalipun.

Setiap guru mengaji, tokoh masyarakat, dan warga sipil yang sebenarnya tidak bersalah menjadi korban.

Tak hanya itu, setiap rumah calon korban sebelumnya akan ditandai tanda silang sebagai isyarat 'target selanjutnya'.

Tindakan pembantaian ini hampir dilakukan setiap bulan yang menciptakan kekacauan dan penuh ketakutan di masyarakat.

Baca Juga: KABAR BAIK! MENPAN RB Tetapkan UMK Daerah Jadi Patokan Gaji PPPK Paruh Waktu, Segini Besaran di Jawa Barat

Peristiwa ini terjadi di tengah krisis politik dan sosial Indonesia pasca-reformasi, dengan pelaku yang diduga melibatkan kelompok bersenjata "ninja" dan adanya indikasi keterlibatan oknum aparat serta konspirasi politik.

Saat itu, Tim investigasi Nahdlatul Ulama (NU) mengungkapkan bahwa pembantaian ini melibatkan aktor intelektual yang diduga terkait dengan rezim yang berkuasa saat itu.

Sebagian pelaku lapangan juga berasal dari kalangan warga NU sendiri, sehingga konflik ini sangat kompleks dan sarat dengan unsur politik dan sosial.

Baca Juga: 12 MEI BERKAH! Dana Rp600.000 Mulai Cair di KKS Mandiri, Khusus Kategori Ini Mendapatkan Rp1,2 Juta

Salah satu faktor yang memperparah tragedi ini adalah kebocoran data pendataan dukun santet yang dikeluarkan oleh Bupati Banyuwangi dalam bentuk radiogram, yang seharusnya untuk melindungi mereka, namun justru digunakan sebagai daftar sasaran pembunuhan.

Motif pasti dan dalang di balik tragedi ini hingga kini belum sepenuhnya terungkap. namun dampaknya meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Banyuwangi dan menjadi salah satu pelanggaran HAM berat di Indonesia.***

Reporter Asti Aureli Septania
Editor Eneng Reni Nuraisyah Jamil