AYOJAKARTA.COM - Apa yang kamu rasakan saat melihat ruanganmu berantakan?
Dilansir dari Psychology Today, ruang yang berantakan bisa membuat pikiran ikut jadi berantakan.
Di dunia yang sering mengagungkan kelimpahan dan konsumsi, sebuah tren baru telah berkembang: minimalis.
Pada pandangan pertama, ini mungkin tampak seperti cara bergaya untuk merapikan rumah, namun akar dari minimalisme jauh lebih dalam.
Baca Juga: Update WhatsApp: 7 Fitur Terbaru WA 2024 Bikin Chatting Kamu Makin Seru dan Aman!
Dari sudut pandang psikologis, rumah fisik kita sering kali dianalogikan dengan dunia batin kita.
Ketika ruang fisik kita berantakan, ruang mental kita pun sering kali ikut berantakan.
Kekacauan fisik dapat menjadi pengingat akan adanya disorganisasi, dan hal ini dapat masuk ke dalam pikiran kita dengan lebih mudah daripada yang mungkin kita sadari.
Baca Juga: Mundur Lagi, Pendaftaran CPNS Tahun 2024 akan Dibuka Juni, Simak Bocoran Formasi yang Dibutuhkan
Jika menurut kamu gaya hidup minimalis hanya sekedar iseng saja, pertimbangkan pendapat psikolog tentang manfaatnya dan seberapa cepat manfaatnya dapat diperoleh.
Kamu mungkin akan berubah pikiran.
Kaitan Antara Minimalis dan Kesejahteraan
Minimalisme telah muncul sebagai pilihan gaya hidup yang ditandai dengan konsumsi rendah, kesederhanaan sukarela, dan pengurangan harta benda secara sengaja.
Baca Juga: Bukan Caper! Menurut Psikologi Inilah Alasan Seseorang Menyakiti Diri Sendiri atau Self Harm
Orang-orang yang menganut gaya hidup ini cenderung menghindari perolehan yang berlebihan dan memilih perilaku seperti penghematan dan praktik pro-ekologis, sambil berupaya untuk hidup lebih bermakna.
Penelitian dari Journal of Applied Positive Psychology mengeksplorasi dampak minimalis terhadap kebahagiaan, kepuasan hidup, dan hubungan interpersonal.
Daripada mengumpulkan barang-barang untuk nilai atau status yang mereka rasakan, kaum minimalis lebih fokus pada apa yang memberi mereka kesenangan dan kegunaan.
Kaum minimalis memiliki lebih sedikit harta benda akan memberikan rasa kebebasan dan kepuasan yang lebih besar.
Berikut 5 kontribusi minimalisme terhadap peningkatan kesejahteraan:
1. Otonomi.
Banyak orang yang merasa “terjebak” atau “terbebani” oleh harta benda dan ekspektasi masyarakat.
Melalui minimalisme, mereka memperoleh otonomi, dan mampu menyelaraskan kehidupan mereka dengan nilai-nilai pribadi dan merasa lebih otentik.
Minimalisme memberikan jalan keluar dari siklus konsumerisme yang monoton, memungkinkan mereka menjalani kehidupan yang terasa benar.
2. Kompetensi.
Dengan mengurangi kekacauan dan menyederhanakan lingkungan, kita mendapatkan rasa kendali dan ketertiban yang lebih besar.
Dengan kepemilikan yang lebih sedikit, kecemasan dan stres berkurang. Melalui minimalisme, kita lebih mudah mengelola lingkungan.
3. Ruang mental.
Minimalisme memungkinkan kita menghemat energi mental, membantu menikmati rasa ringan dan jernih yang bertahan lama.
Tidak adanya kekacauan fisik menyebabkan berkurangnya kekacauan internal, sehingga mendukung gagasan bahwa lingkungan sekitar dapat berdampak langsung pada kondisi mental kita.
4. Kesadaran.
Minimalisme juga meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai dan apa yang benar-benar penting dalam hidup.
Baca Juga: Edukasi Psikologi: Waspadai Gejala OCD pada Perempuan, Antisipasi Agar Tidak Fatal!
Dengan mengurangi gangguan, kita dapat fokus pada pertumbuhan mereka sendiri dan belajar dari wawasan baru, yang pada akhirnya memungkinkan kita untuk lebih mengapresiasi dunia sekitar.
5. Emosi positif.
Kombinasi otonomi, kompetensi, ruang mental, dan kesadaran menyebabkan peningkatan emosi positif.
Perasaan gembira, damai, dan perasaan sejahtera secara umum pun tercipta.
Peralihan ke gaya hidup minimalis tampaknya menjadi katalis bagi emosi-emosi ini, karena memungkinkan kita untuk melepaskan diri dari stres dan kecemasan yang sering didorong oleh konsumen.***
Baca Juga: Tips Psikologi: 5 Cara Meninggalkan Hubungan yang Toxic