AYOJAKARTA.COM - Kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART) kembali menjadi sorotan publik.
Perjanjian ini mengatur sejumlah komoditas yang mendapatkan fasilitas tarif nol persen, baik untuk ekspor Indonesia ke AS maupun impor produk energi dari Amerika.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menjelaskan salah satu komoditas yang masuk dalam skema ini adalah bioetanol.
Indonesia membuka peluang impor bioetanol dari AS, namun hanya untuk menutup kekurangan pasokan dalam negeri.
“Untuk etanol ini apabila kebutuhan kita itu antara kebutuhan dan produksi kita berkurang, dengan kata lain produksi kita 10, kebutuhan kita 20, 10-nya bisa impor dan Amerika salah satu yang bisa kita impor,” ujar Bahlil di Jakarta.
Menurutnya, bioetanol yang diimpor harus memenuhi standar kemurnian minimal 99,9 persen.
Spesifikasi tinggi ini diperlukan agar aman digunakan sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) sekaligus mencegah perdebatan teknis mengenai performa mesin kendaraan.
“Bioetanolnya itu harus mencapai kadar 99,9 persen. Itu standarnya supaya tidak terjadi debatable terkait dengan untuk penggunaan BBM,” kata Bahlil.
Selain untuk sektor energi, bioetanol juga memiliki peran penting di industri lain.
Produk tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kimia hingga kosmetik, tergantung spesifikasi pabrik dan kebutuhan sektor terkait.
Dalam kesepakatan ART, beberapa komoditas energi asal Amerika juga mendapat fasilitas tarif nol persen saat masuk ke Indonesia.
Bahlil mencontohkan impor LPG dari AS yang selama ini memang tidak dikenakan tarif bea masuk.
Sementara itu, Indonesia memperoleh keuntungan melalui akses pasar yang lebih kompetitif di AS.
Menurut pengamat ekonomi Bennix, banyak komoditas unggulan Indonesia juga menikmati tarif nol persen, seperti kelapa sawit, batu bara, kopi, kakao, hingga komponen elektronik.
Bennix menilai narasi bahwa Indonesia dirugikan dalam kesepakatan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Ia menyoroti data perdagangan yang justru menunjukkan surplus kuat bagi Indonesia.
“Fakta berbicara, ekspor Indonesia ke Amerika justru naik setelah tarif 19 persen berlaku. Artinya kita tetap surplus, bukan kolaps,” ujar Bennix.
Data perdagangan menunjukkan pada 2024 ekspor Indonesia ke AS mencapai sekitar Rp472 triliun, sementara impor hanya Rp170 triliun.
Surplus bahkan meningkat pada 2025 ketika ekspor mencapai Rp583 triliun dan impor sekitar Rp185 triliun.
Menurut Bennix, impor energi seperti LPG atau BBM dari AS sebenarnya bukan kebijakan baru.
Indonesia sudah lama mengimpor komoditas tersebut, sehingga perjanjian ART lebih bersifat penyesuaian sumber pasokan.
Dengan kondisi surplus perdagangan yang tetap terjaga, kesepakatan ini dinilai berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global sekaligus menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat di tengah dinamika ekonomi dunia.***