AYOJAKARTA.COM - Ketegangan ekonomi global kembali memanas setelah Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor hingga 50 persen terhadap seluruh produk asal China.
Ancaman ini memicu reaksi keras dari Beijing yang langsung menyiapkan langkah balasan jika kebijakan tersebut benar-benar diterapkan.
Pemerintah China dengan tegas membantah tuduhan bahwa mereka memberikan dukungan militer kepada Iran, yang disebut-sebut menjadi alasan di balik rencana tarif tinggi tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyebut laporan media terkait hal itu sebagai “sepenuhnya dibuat-buat”.
“Jika AS tetap melanjutkan kenaikan tarif berdasarkan tuduhan tersebut, China akan merespons dengan tindakan balasan,” tegas pernyataan resmi pemerintah China, dilansir dari Aljazeera.
Ancaman tarif sebesar 50 persen ini bukan angka biasa. Dalam praktik perdagangan internasional, tarif umumnya berada di kisaran belasan persen.
Kebijakan ekstrem seperti ini berpotensi menjadi “bom ekonomi” yang mengguncang hubungan dagang kedua negara raksasa tersebut.
Di balik konflik ini, terdapat dimensi geopolitik yang kuat. Dugaan bahwa China akan mengirim sistem pertahanan udara, termasuk rudal bahu (shoulder missiles), ke Iran dipandang Washington sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Hal ini membuat isu perdagangan melebar menjadi konflik strategis global.
Sebagai “pabrik dunia”, China merupakan pemasok utama berbagai produk ke Amerika Serikat, mulai dari elektronik hingga komponen industri.
Jika tarif tinggi diberlakukan, harga barang China di pasar AS akan melonjak drastis, berpotensi memicu inflasi dan menekan daya beli konsumen.
Dampaknya tidak berhenti di situ. Ketegangan ini juga berpotensi mengguncang pasar keuangan global.
Nilai tukar yuan diperkirakan akan tertekan terhadap dolar AS, sementara ketidakpastian global dapat mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas.
Selain itu, hubungan dagang global yang saling terhubung membuat efek domino sulit dihindari.
Eropa dan negara-negara lain yang memiliki hubungan ekonomi erat dengan China juga berisiko terdampak perlambatan ekonomi.
Perang dagang antara Amerika Serikat dan China sejatinya bukan hal baru, namun ancaman tarif 50 persen ini menjadi salah satu eskalasi paling ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.
Jika benar terjadi, dunia berpotensi menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar di tengah situasi geopolitik yang sudah memanas.
Kini, pelaku pasar global menanti langkah selanjutnya dari kedua negara. Apakah konflik ini akan mereda melalui negosiasi, atau justru berkembang menjadi krisis ekonomi global yang lebih luas?***