Internasional

Iran Balas Serang Pangkalan Militer AS di Kuwait dan Bahrain, Selat Hormuz Terancam Ditutup Total

Oleh: Katarina Erlita Sabtu 06 Jun 2026, 23:15 WIB
Ilustrasi Perang Amerika vs Iran (Sumber: Chat GPT)

AYOJAKARTA.COM - Ketegangan di wilayah Timur Tengah kini memasuki babak baru yang sangat serius.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi menyatakan telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat.

Serangan balasan ini menyasar pangkalan udara di Kuwait dan fasilitas angkatan laut di Bahrain.

Menurut laporan resmi, Angkatan Udara IRGC menggunakan rudal balistik dalam operasi ini.

Target utamanya adalah Pangkalan Udara Ali al-Salem yang terletak di Kuwait.

Selain itu, Iran juga menargetkan fasilitas utama Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.

Langkah militer ini merupakan respons langsung terhadap serangan drone Amerika Serikat.

Sebelumnya, drone AS dilaporkan menyerang menara telekomunikasi di Pulau Qeshm dan sebuah menara di wilayah Sirik.

Dilansir dari TRT World, pemerintah Iran mengutuk keras tindakan Washington yang dianggap provokatif.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan radar pantai oleh AS sebagai pelanggaran mencolok.

Aksi tersebut dianggap melanggar kedaulatan nasional dan integritas wilayah Republik Islam Iran.

Padahal, kesepakatan gencatan senjata seharusnya sudah berlaku sejak bulan April lalu.

Situasi ini memicu kekhawatiran besar di tingkat global. IRGC mengeluarkan peringatan bahwa agresi lebih lanjut akan memicu respons yang jauh lebih besar.

Salah satu ancaman paling serius adalah penutupan total Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan rute vital bagi pengiriman minyak dan gas dunia.

Jika jalur ini ditutup, pasokan energi global akan terganggu secara drastis.

Dampak dari konflik ini sudah mulai terasa pada sektor ekonomi. Pasar energi global dilaporkan terguncang akibat ketidakpastian ini.

Kerusakan ekonomi berkepanjangan menjadi ancaman nyata bagi banyak negara.

Di Indonesia, gejolak ini turut memengaruhi nilai tukar mata uang. Rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp18.095 per dolar AS di tengah ketidakstabilan regional.

Konflik ini merupakan kelanjutan dari ketegangan yang meningkat sejak akhir Februari 2026.

Saat itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap wilayah Iran.

Rangkaian aksi balasan terus terjadi hingga memperluas ketidakstabilan di kawasan tersebut.

Meskipun upaya diplomatik untuk kesepakatan damai terus berjalan, situasi di lapangan masih sangat memanas.

Iran menegaskan bahwa mereka akan terus menjaga kepentingan nasionalnya dari segala bentuk agresi asing.

Pasukan keamanan di wilayah Teluk kini berada dalam posisi siaga tinggi. Terganggunya pelayaran di jalur penting menambah beban bagi stabilitas keamanan internasional saat ini.***

Reporter Katarina Erlita
Editor Katarina Erlita