AYOJAKARTA.COM - Paus Leo XIV resmi merilis ensiklik perdana berjudul "Magnifica Humanitas" pada 25 Mei 2026.
Dokumen setebal 43 ribu kata ini menjadi panduan moral tertinggi bagi 1,4 miliar umat Katolik.
Melalui surat ini, Paus LEO XIV menyoroti perkembangan pesat Kecerdasan Buatan (AI) yang harus tetap melayani kemanusiaan.
Kiasan Menara Babel di Era Modern
Dalam ensiklik tersebut, Paus Leo XIV menggunakan kiasan Menara Babel sebagai peringatan keras terhadap kesombongan manusia.
Kisah Alkitab ini menceritakan manusia yang runtuh karena sombong ingin membangun menara menuju surga.
Saat ini, teknologi AI yang tidak diawasi berisiko menjadi "Menara Babel baru". AI berpotensi menyebarkan disinformasi dan memperbesar konflik global.
Umat manusia kini berada di titik balik untuk memilih, antara menggunakan AI demi kebaikan bersama atau terjebak dalam dominasi yang sombong.
Poin Penting Ensiklik Magnifica Humanitas
Penulisan dokumen ini melibatkan diskusi panjang dengan ilmuwan, teknolog, dan pemimpin politik sejak tahun 2025.
Dilansir dari Vatican News, berikut adalah poin penting yang tercantum dalam Ensiklik Magnifica Humanitas:
- Regulasi AI yang Ketat: Teknologi tidak pernah netral karena membawa sifat pembuatnya. Pemerintah dunia harus segera membuat aturan hukum yang tegas demi mencegah perang tanpa akhir.
- Perlindungan Martabat Manusia: Setiap orang adalah ciptaan Tuhan yang bernilai mulia. AI tidak boleh mengeksploitasi pekerja atau menilai manusia hanya berdasarkan produktivitas semata.
- Keadilan Sosial: Kepemilikan data AI tidak boleh dikuasai penuh oleh pihak swasta. Algoritma yang bias dan merugikan hak kerja atau layanan kesehatan harus segera diatasi.
Kritik Keras AI dalam Militer dan Perang
Paus Leo XIV secara khusus mengecam penggunaan AI dalam konflik bersenjata, seperti teknologi AS saat menentukan target pengeboman di Iran.
Dokumen ini menegaskan bahwa tidak ada algoritma yang dapat membuat perang diterima secara moral.
Pria berusia 70 tahun tersebut meminta agar AI segera "dilucuti" dari logika kekerasan.
Menyerahkan keputusan fatal yang mematikan kepada mesin pintar sangatlah berbahaya.
Akuntabilitas dan tanggung jawab moral harus tetap berada di tangan manusia, bukan algoritma.
Gereja Katolik juga menyatakan bahwa teori "perang yang adil" kini sudah usang.
Melalui Magnifica Humanitas, dunia diajak untuk meninggalkan logika dominasi dan bekerja sama membangun masa depan yang harmonis.***
Share this article
Ensiklik Magnifica Humanitas Paus Leo XIV ingatkan bahaya kesombongan AI bak Menara Babel. Beliau tuntut regulasi ketat, perlindungan martabat, dan haramkan algoritma militer penentu perang.