AYOJAKARTA.COM - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah Filipina selatan pada Senin pagi, 8 Juni 2026.
Bencana besar ini terjadi sekitar pukul 07.40 waktu setempat atau 06.40 WIB.
Pusat gempa berada di dekat Kota General Santos, Pulau Mindanao. Getaran hebat ini meruntuhkan banyak bangunan dan memicu kepanikan massal di seluruh wilayah tersebut.
Hingga saat ini, laporan resmi menyatakan sedikitnya 15 orang meninggal dunia.
Sebanyak 12 korban jiwa ditemukan di wilayah Soccsksargen. Sementara itu, tiga orang lainnya dilaporkan tewas di provinsi Davao Occidental.
“Banyak bangunan yang terkena dampak, tetapi saya tidak dapat menyebutkannya sekarang karena kami sedang sibuk dengan operasi penyelamatan yang sedang berlangsung,” kata Robert Dagon, dari kepolisian kota General Santos, kepada Agence France-Presse, dilansir dari The Guardian.
Tim penyelamat masih bekerja keras melakukan pencarian di lokasi reruntuhan. Mereka khawatir masih ada warga yang terjebak di bawah puing bangunan yang hancur.
Kerusakan infrastruktur terlihat sangat parah di beberapa titik lokasi. Sebuah restoran cepat saji Jollibee di General Santos City dilaporkan runtuh total dalam awan debu.
Selain itu, sebagian bangunan sekolah menengah di Davao del Sur juga mengalami kerusakan berat.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan tembok-tembok beton runtuh dan kaca pecah berserakan di jalanan.
Gangguan aliran listrik juga dilaporkan terjadi di berbagai area yang terdampak.
Mary Ann Blanco Rhudy, seorang biarawati di Universitas Notre Dame of Dadiangas, menceritakan mobil-mobil di jalanan bergerak liar saat gempa terjadi.
"Mobil-mobil di jalan bergerak tidak menentu. Saya beruntung karena tidak terjadi tabrakan antar mobil. Pohon-pohon di pinggir jalan juga bergoyang hebat," ujar Mary Ann Blanco Rhudy, mengutip dari Aljazeera.
Pohon-pohon di pinggir jalan juga bergoyang sangat kencang. Beberapa bangunan di kampusnya juga dilaporkan mengalami kerusakan sebagian akibat guncangan tersebut.
Otoritas seismik sempat mengeluarkan peringatan tsunami untuk beberapa negara di Asia.
Gelombang air laut setinggi 3 meter sempat diprediksi akan menghantam pesisir Filipina.
Indonesia dan Malaysia juga masuk dalam daftar waspada dengan potensi gelombang setinggi 1 meter.
Di Indonesia, warga di Sulawesi Utara dan Maluku Utara turut merasakan getaran gempa yang kuat.
Pemerintah Indonesia bahkan sempat mengeluarkan perintah evakuasi untuk wilayah Sulawesi Utara bagian utara.
Presiden Ferdinand Marcos Jr segera memerintahkan pengaktifan seluruh badan bencana nasional.
Ia juga menginstruksikan penghentian aktivitas sekolah di wilayah terdampak demi keamanan siswa.
Otoritas meminta warga di provinsi seperti Sarangani dan Tawi-Tawi untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Warga juga dilarang memasuki bangunan yang sudah retak karena ancaman gempa susulan masih terus terjadi.
Kondisi geografis Filipina yang berada di jalur "Cincin Api Pasifik" membuatnya sangat rawan bencana.
Wilayah kepulauan ini sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi secara rutin.
Petugas Palang Merah Filipina kini fokus memberikan bantuan medis dan dukungan psikologis bagi para siswa yang mengalami trauma berat.
Tim evakuasi masih terus melakukan penilaian kerusakan di sepanjang rute penyelamatan.***