Jakarta Utara

Program 100 Persen Pilah Sampah dari Sumber di Rorotan Berhasil Kurangi Beban TPST Bantargebang, Capai 6 Ton per Hari

Oleh: Desi Kris Senin 20 Apr 2026, 11:08 WIB
Program Pilah dari Sumber di Rorotan (Sumber: beritajakarta.id)

AYOJAKARTA.COM - Upaya pengelolaan sampah dari sumbernya di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, menunjukkan hasil nyata.

Melalui program “100 Persen Pilah Sampah" dari sumbernya, wilayah ini mampu menekan pengiriman sampah ke TPST Bantargebang hingga enam ton per hari.

Capaian tersebut diraih dalam waktu relatif singkat.

Dalam kurun sekitar satu setengah bulan sejak program dijalankan, tingkat partisipasi warga dalam memilah sampah meningkat signifikan.

Jika sebelumnya hanya sebagian kecil rumah tangga yang melakukan pemilahan, kini kebiasaan tersebut mulai meluas dan menjadi rutinitas harian masyarakat.

"Dari total hampir 60 ribu jiwa di Rorotan, sebelumnya hanya sekitar 5 persen rumah tangga yang memilah sampah. Setelah intervensi lebih dari satu bulan, partisipasi meningkat drastis dan berdampak langsung pada pengurangan sampah hingga lima hingga enam ton per hari," ujar Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edy Mulyanto.

Edy lantas menjelaskan bahwa perubahan perilaku warga menjadi kunci utama keberhasilan program ini.

Menurutnya, kesadaran untuk memilah sampah sejak dari rumah berdampak langsung pada berkurangnya volume sampah yang harus diangkut ke TPST Bantargebang.

Sebagai tantangan utama dalam pengelolaan sampah di Jakarta Utara ini, kata Edy, adalah pada dominasi sampah organik.

Sebab dari total sekitar 1.300 ton sampah per hari, hampir separuhnya adalah sampah organik yang selama ini belum bisa tertangani secara optimal.

Oleh sebab itu, Edy bersama jajaran tidak hanya menggencarkan edukasi, tapi juga memperkuat sarana dan prasana pendukung.

Dalam kegiatan ini, terdapat 410 unit tong drop point yang didistribusikan di tingkat RT, 11.982 ember pemilahan untuk rumah tangga, 93 unit timbangan gantung, 650 unit Lodong Sisa Dapur (losida), serta 12 unit tong komposter.

"Kami juga menghadirkan dukungan teknologi pengolahan sampah, seperti mesin pencacah dan bioreaktor untuk mempercepat proses penguraian sampah organik," tuturnya.

Edy pun mengatakan jika sistem pengelolaan sampah di Rorotan saat ini sudah berjalan lebih terstruktur.

Warga mulai rajin memilah sampah dari rumah, lalu dikumpulkan di titik drop point.

Sampah organik tersebut nantinya akan diangkut ke tempat penampungan sementara (TPS) untuk diolah menjadi bubur sampah.

Bubur sampah ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan budidaya maggot.

"Dalam satu bulan, volume sampah organik yang berhasil dikelola mencapai 21 hingga 25 ton. Ini tidak hanya mengurangi beban TPST Bantar Gebang, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular di tingkat masyarakat," jelas Edy lagi.

Ia menyampaikan jika keberhasilan ini didukung oleh peran aktif kader Gerakan Pilah Sampah (GPS), petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), penyuluh lingkungan hidup, serta kolaborasi berbagai pihak, termasuk sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Di sisi lain, kata Edy, Pemkot Jakarta Utara juga berencana untuk mereplikasi keberhasilan Rorotan ke wilayah lain.

Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.***

TAGS:
Reporter Desi Kris
Editor Desi Kris