AYOJAKARTA.COM - Misteri tewasnya empat anggota yang diduga merupakan satu keluarga di rumah daerah Kalideres Jakarta Barat masih terus ditelusuri.
Pihak kepolisian masih terus menyelidiki apa penyebab pasti tewasnya satu keluarga di Kalideres tersebut.
Informasi yang disampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan forensik yakni bagian organ lambung keempat korban tidak ada tanda-tanda terisi makanan maupun minuman sejak waktu yang cukup lama.
Keempat korban yang merupakan satu keluarga di antaranya yaitu seorang bapak berinisial RG yang diketahui berusia 71 tahun dan adiknya berinisial BG yang diketahui berusia 68 tahun.
Kemudian seorang ibu berusia 66 tahun yang berinisial RM dan seorang anak perempuan yang berinisial DF diketahui berusia 42 tahun.
Baca Juga: Misteri Satu Keluarga Tewas di Kalideres, Kriminolog Menduga Korban Menganut Apokaliptik, Apa Itu?
1. Kematian bukan karena kelaparan
Menurut pemeriksaan forensik berdasarkan hasil autopsi dari keempat jenazah, diduga kematian mereka diakibatkan karena dehidrasi dan kelaparan dalam waktu yang cukup panjang.
Dalam hal itu polisi menyampaikan bahwa kondisi jenazah yang ditemukan terlihat sudah mengering yang menandakan bahwa memang seperti dehidrasi.
Selain itu juga terlihat dari organ lambungnya tidak ditemukan ada makanan atau minuman sehingga menjadikan dugaan kelaparan adalah penyebab dari kematian keempat korban.
Namun Kombes Hengky Haryadi menyampaikan bahwa pernyataan penyebab kematian korban yakni kelaparan itu belum bisa dipastikan dan masih harus terus ditelusuri kebenarannya.
"Diksi kematian disebabkan karena kelaparan itu belum bisa dipertanggungjawabkan," ujar Kombes Hengki Haryadi kepada wartawan yang dikutip ayojakarta.com dari suara.com pada Senin 14 November 2022.
Hal itu juga dibantah oleh pihak keluarga korban yakni Ris Astuti yang menyatakan bahwa dugaan penyebab kematian korban yakni kelaparan terkesan aneh.
"Kecil sih kalau menurut saya ya. Ini rada aneh juga sih saya juga bingung, misalnya kalau dia lapar, enggak ada makanan atau kurang buat makan, kan dia bisa menghubungi kita (keluarga)," ujar Ris Astuti kepada wartawan pada Sabtu, 12 November 2022.
Baca Juga: Deretan Fakta dan Kejanggalan Kasus Satu Keluarga Tewas di Kalideres, Warganet : Ini Teka Teki Hebat
2. Lokasi kejadian di perumahan elite
Tidak hanya diselidiki oleh pihak kepolisian, kasus kematian keluarga di Kalideres ini juga turut ditanggapi Wali Kota Jakarta Barat.
Yani Wahyu Purwoko selaku Wali Kota Jakarta Barat sempat mengunjungi lokasi kejadian.
Menurut Yani Wahyu Purwoko, apabila kasus kematian tersebut dikaitkan dengan kondisi kelaparan itu jauh dari kata mungkin.
Yani menyampaikan bahwa lokasi perumahan yang ditempati korban itu merupakan perumahan elite.
Baca Juga: Warga Dihebohkan Temuan 4 Mayat Mengering di Kalideres, Polisi Bentuk Tim Selidiki Kasus Kematian
Selain itu, Yani juga menunjukkan bahwa perawakan rumahnya juga terlihat cukup bagus dan dinilai kurang menjadikan alasan pendukung apabila kelaparan menjadi penyebab kematian korban.
"Tapi bukan berarti yang bersangkutan tidak memiliki pangan karena tetangganya jualan dan rumahnya juga kita lihat seperti ini ya," ujar Yani Wahyu Purwoko.
Dugaan kelaparan yang menjadi penyebab kematian satu keluarga di Kalideres itu muncul berawal dari pernyataan pihak kepolisian yang menyatakan bahwa tidak ditemukannya makanan atau minuman pada lambung korban.
Baca Juga: Deretan Kejanggalan Kasus 1 Keluarga yang Ditemukan Tewas di Kalideres, Warganet Curigai Hal Ini
3. Diduga ada yang mau menutupi kematian salah satu korban
Setelah melakukan penelusuran dan olah TKP lebih detail, polisi menyampaikan bahwa pihaknya menemukan barang bukti baru lainnya.
Di antaranya yakni bedak bayi dan kapur barus yang ditemukan pada rumah korban di Kalideres Jakarta Barat.
Yani Wahyu Purwoko juga menyampaikan dugaannya terkait ada salah seorang anggota keluarga korban yang menutup-nutupi kematian korban lainnya.
Hal ini berdasarkan ditemukannya taburan kapur barus pada korban yang diduga untuk mengelabui bau tidak sedap dari jenazah tersebut.
Baca Juga: Menggali Keterangan Keluarga korban Peristiwa Kalideres: Sudah 20 Tahun Tidak Berkomunikasi
Berdasarkan hasil pemeriksaan forensik juga diketahui keempat korban ini meninggal dunia tidak pada waktu yang bersamaan.
"Bapaknya meninggal disikapi dengan hanya ditaburi kapur barus. Kemudian, berikutnya yang meninggal adalah ibunya, itu juga disikapi seperti itu," ujar Yani saat ditemui di tempat kejadian perkara (TKP).
Kapolsek Kalideres AKP Syafri Wasdar juga menegaskan terkait kegunaan kapur barus yang salah satunya untuk menyerap bau.
"Kapur barus kan ada ditemukan di TKP, dokter forensik mengatakan bahwa kapur barus bisa menyerap bau," ujar Syafri Wasdar.
4. Kejadian aneh pada September
Fakta lainnya yang terungkap adalah kejadian saat juru pemantau jentik atau Jumantik hendak memeriksa kondisi rumah warga pada September lalu.
Menurut keterangan Kapolsek Kalideres bahwa saat itu korban melarang petugas Jumantik untuk masuk ke rumahnya.
"Pada September petugas Jumantik ingin cek keadaan rumah, petugas Jumantik tidak boleh masuk," ujar Kapolsek Kalideres AKP Syarfri Wasdar.
Tak hanya itu dugaan tersebut dikuatkan oleh keterangan Ketua RT Kalideres, Asiung yang menyampaikan bahwa memang keluarga korban sempat melarang petugas Jumantik untuk memeriksa kondisi rumahnya.
Asiung menyampaikan bahwa pihak keluarga hanya memberikan foto kepada petugas jumantik saat itu.
"Keluarga hanya memberikan laporan kepada petugas Jumantik melalui foto," kata Asiung mengungkapkan.
Baca Juga: Pakar soal Satu Keluarga Tewas di Kalideres: Dugaan Perut Kosong Belum Titik Akhir
5. Tim Kombes Hengky Haryadi turun tangan
Penyelidikan kasus kematian empat korban yang diduga merupakan satu keluarga di Kalideres ini terus ditelusuri oleh pihak Polres Metro Jakarta Barat.
Tidak hanya itu, pihak Polda Metro Jaya juga melakukan oleh TKP juga pemeriksaan dari laboratorium forensik mengenai toksikologi dan histopatologi terkait kasus kematian tersebut.
"Saat ini, Ditreskrimum PMJ backup Polres Jakarta Barat dalam penyelidikan kasus ini," ujar Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Hengki Haryadi dalam keterangan tertulis.
Baca Juga: Fakta-fakta Tewasnya Satu Keluarga di Kalideres, Kelaparan hingga Hilangnya Mobil Korban
6. Tidak ada tanda kekerasan atau bercak darah
Sejak awal ditemukannya korban tewas secara mengenaskan dalam kondisi membusuk di kediaman Kalideres Jakarta Barat memang tidak ada tanda-tanda kekerasan.
Penyidik di TKP mengungkapkan kondisi rumah dalam keadaan bersih dan rapi sehingga bisa dikatakan bahwa tidak ada keributan sebelum kejadian tewas korban.
Selain itu, juga tidak ada tanda-tanda bercak darah ataupun kekerasan yang terjadi sebelum korban ditemukan tewas.
Informasi pastinya yakni korban memang ditemukan dalam kondisi membusuk dan mengering karena sudah lebih dari satu minggu tewas.
"Tidak ditemukan tanda kekerasan. Untuk jenazah membusuk ini karena sudah lebih dari satu minggu," ujar Syafri.*** (Artikel ini sudah pernah tayang sebelumnya pada laman suara.com yang berjudul "Bukan Karena Kelaparan, Ini Fakta-fakta Terbaru Kematian Satu Keluarga Di Kalideres")