AYOJAKARTA.COM - Brigadir J dibunuh ketika dirinya dan rombongan dari Kota Magelang.
Hal yang masih janggal ialah, apa yang dilakukan rombongannya tersebut yang didalamnya ada Putri Candrawathi hingga tega membunuh Brigadir J?
Teka-teki ini akhirnya dibongkar oleh pengacara Keluarga Brigadir J (Yosua), Kamaruddin Simanjuntak yang dilansir dari Ayo Bandung.
Kamaruddin menuturkan bahwa Ferdy Sambo di duga melakukan perkawinan diluar undang-undang dengan wanita lain.
Baca Juga: Beredar Foto Jadul Ferdy Sambo Saat SMA Masih Polos dan Kurus. Terkenal dengan Panggilan Pepi
"Si bapak itu diduga melakukan perkawinan diluar undang-undang dengan yang cantik-cantik itu dan diduga ini ada pertanyaan dari Ibu kemana bapak, kenapa tidak pulang, kemana kakinya, kemana tangannya kan kurang lebih seperti itu," ucap Kamaruddin.
"Seperti yang saya katakan biasanya bapak kalau bintang dua, istri bintang tiga. Jadi yang repot itu supir dan ajudan. Bagaimana harus menjawab kan begitu," jelasnya menambahkan.
Menurut Kamaruddin, mungkin karena para ajudan atau sopir ini tidak terlatih menjawab, sehingga diberitahu perihal Ferdy Sambo pada sang istri.
"Mungkin karena mereka tidak terlatih menjawab, sehingga diduga diberitahu. Setelah diberitahu bahwa si bapak pergi menemui yang cantik-cantik itu dan tidak pulang, maka terjadilah pertengkaran rumah tangga," ungkap Pengacara keluarga Brigadir Yosua.
Menurut sang pengacara, setelah pertengkaran suami istri itulah Brigadir Yosua diancam.
"Sejak saat itulah diancam dan lainnya almarhum ini. Sampai dia menangis-nangis pada tanggal 21 Juni 2022 menelpon kekasihnya. Namun, dia tidak memberitahu orangtuanya," paparnya.
Sampai kemudian pada 7 Juli 2022, mereka pergi ke Magelang. Namun, disana terjadi lagi pertengkaran suami istri antara Ferdy Sambo dan istrinya hingga dia menangis.
Setelah pertengkaran itu pun mantan Kadiv Propam Polri itu pun kembali ke Jakarta tanpa sang istri.
Dia pulang ke Jakarta dengan didampingi oleh ajudannya yang berinisial D.
"Karena terjadi pertengkaran, si bapak pergi duluan tidak bersama-sama lagi pulangnya. Dia pulang naik pesawat dengan ajudan berinisial D yang diduga selama ini sering menghasutnya," jelas Kamaruddin lebih lanjut.
Kemudian pada tanggal 8 Juli, Brigadir Yosua kembali ke Jakarta mendampingi Putri Candrawathi.
Sesampainya di Jakarta, ternyata sang matan Kadiv Propam Polri telah menunggu mereka di rumah, pada saat itu masih jam kantor.
Setelah sampai di rumah itulah Brigadir Yosua diduga disiksa.
"Nah setelah ditunggu dirumah, beres-bers semua barang dimasukkan ke dalam rumah, kemudia diduga disiksa lah ini, dipatah-patahi jari-jarinya, kakinya, tangannya, kemudian bahunya diduga dihajar jadi luka menganga," tutur pengacara keluarga Brigadir Yosua.
Baca Juga: Besaran Gaji dan Tunjangan Brigadir J, Ajudan Ferdy Sambo yang Tewas di Tangan Atasannya Sendiri
"Kemudian ditembak dari bawah dagu tembus ke bibir bawah, ditembak dari belakang tembus ke hidung depan, ditembak itu dadanya lurus kebelakang, kemudia ada luka di lipatan kaki sampai ada rembesan darah. Kemudian di kaki sini, kemudian di kaki sini, kemudian dibahu kanan kiri. Semua banyak kali luka," tambahanya lagi.
Padahal menurut keterangan dari karopenmas Polri, Brigadir Yosua hanya ditembak lima kali dan yang kena empat.
Demikian ulasan mengenai penyebab Putri Candrawathi menangis di Magelang yang diungkap oleh pengacara keluarga Brigadir J. *** (Rina Marlina Fitriana/Ayo Bandung)