Metropolitan

Pemprov DKI Jakarta Punya Bahan Bakar Alternatif Baru hingga Pengelolaan Gunakan Sampah RDF Plant Rorotan

Oleh: Jinan Vania Barizky Rabu 17 Des 2025, 11:08 WIB
RDF Plant Rorotan (Sumber: Instagram @dkijakarta)

AYOJAKARTA.COM - DKI Jakarta secara resmi menghadirkan pengelolaan sampah dengan menggunakan RDF Plant Rorotan yang dapat diolah menjadi bahan bakal alternatif yang berguna bagi industri.

Produk Refuse Derived Fuel (RDF) yang dihasilkan RDF Plant Rorotan, pabrik pengolahan sampah terbesar di Indonesia, kini siap dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk industri semen.

“Ini adalah momen penting bagi Jakarta. RDF Plant Rorotan membuktikan bahwa sampah kota dapat diolah menjadi sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bernilai dan bermanfaat,” ujar Asep Kuswanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rabu (17/12).

Baca Juga: Siap Aman dan Lancar! Dishub DKI Jakarta Siapkan 2.500 Personel Jelang Nataru, 7 Titik Lokasi Wisata Jadi Pantauan Utama

Sebelumnya, Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk telah melakukan penandatanganan Perjanjian Jual Beli (PJB) produk RDF.

Penandatanganan ini berlangsung bersamaan dengan peluncuran armada baru truk compactor tertutup pengangkut sampah ke RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara, Selasa (16/12).

Kerja sama ini menandai dimulainya pemanfaatan RDF hasil pengolahan sampah dalam kota Jakarta oleh sektor industri secara berkelanjutan.

Melalui perjanjian tersebut, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk akan membeli produk RDF dari Rorotan dengan skema harga berbasis kualitas, berkisar antara USD 24 hingga USD 44 per ton. Perjanjian berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

Baca Juga: Potensi Banjir Rob Akhir Tahun di Ibu Kota, Pemprov DKI Jakarta Siapkan 2 Mitigasi Ini

Asep menjelaskan, RDF Plant Rorotan telah melalui serangkaian tahapan uji coba dan penyempurnaan yang dilakukan secara bertahap dan hati-hati.

Proses tersebut didampingi oleh tenaga ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk memastikan seluruh aspek teknis, lingkungan, dan keselamatan memenuhi standar yang ditetapkan.

“Kami tidak terburu-buru. Setiap tahapan diuji, dievaluasi, dan diperbaiki agar operasional benar-benar siap,” katanya.***

Reporter Jinan Vania Barizky
Editor Jinan Vania Barizky