AYOJAKARTA.COM – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan membangun Museum Peranakan Tionghoa di kawasan Jalan Keadilan, Glodok, Jakarta Barat.
Hal ini diungkapkan Pramono saat menghadiri puncak perayaan Cap Go Meh di kawasan Pancoran Chinatown, Glodok, Jakarta Barat, Selasa, 3 Maret lalu.
Pembangunan museum tersebut sebagai wujud apresiasi terhadap masyarakat Tionghoa dalam sejarah perkembangan ibu kota.
Baca Juga: Mengenal Purim Day, Alasan di Balik Ketegangan Abadi Israel dan Iran Menurut Analisis Connie Bakrie
"Pemerintah DKI Jakarta akan membangun Museum Peranakan yang ada di Jalan Keadilan," ujar Pramono, dikutip ayojakarta.com pada Rabu, 4 Maret 2026.
Lebih lanjut, Pramono menyebutkan bahwa museum ini sebagai upaya Pemprov DKI Jakarta memperkuat identitas sejarah dan keberagaman.
Museum Peranakan Tionghoa akan menjadi wajah baru destinasi wisata di DKI Jakarta.
Proyek MRT yang akan terhubung hingga kawasan Monas dan Kota Tua akan memudahkan akses masyarakat ke lokasi museum nantinya.
Sekilas tentang Kawasan Glodok
Glodok dikenal sebagai salah satu kawasan pecinan (Chinatown) tertua di Indonesia yang berada di wilayah Jakarta Barat. Sejak era kolonial Belanda, kawasan ini telah menjadi pusat aktivitas perdagangan dan permukiman masyarakat Tionghoa di Batavia.
Glodok juga memiliki nilai sejarah yang kuat, termasuk peristiwa kelam Geger Pecinan tahun 1740 yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah komunitas Tionghoa di Jakarta.
Saat ini, Glodok dikenal sebagai sentra perdagangan elektronik terbesar di Jakarta, sekaligus pusat kuliner legendaris. Di kawasan ini berdiri sejumlah bangunan bersejarah seperti Vihara Dharma Bhakti (Kim Tek Ie) yang merupakan salah satu klenteng tertua di Jakarta, serta berada tak jauh dari kawasan Kota Tua yang menjadi destinasi wisata sejarah.
Selain Pancoran Chinatown Point sebagai pusat perayaan budaya Tionghoa modern, kawasan ini juga kerap menjadi lokasi perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang meriah setiap tahunnya.
Dengan rencana pembangunan Museum Peranakan Tionghoa, Glodok diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya yang merepresentasikan keberagaman Jakarta.***