AYOJAKARTA.COM - Ketegangan antara Israel dan Iran kembali memanas. Namun menurut pakar militer Connie Rahakundini Bakrie, konflik ini tidak bisa dibaca semata sebagai dinamika geopolitik modern.
Ada dimensi historis, kultural, dan teologis yang turut membentuk cara pandang kedua negara.
Dalam podcast bersama Denny Sumargo, Connie menjelaskan bahwa banyak pihak kerap menyederhanakan konflik dengan menempatkan Israel sebagai pihak yang selalu bersalah.
Padahal, dari perspektif budaya dan sejarah, ada trauma kolektif yang memengaruhi sikap strategis Israel.
“Kita sering lupa, seolah-olah kalau sudah perang begini yang salah Israel melulu. Saya harus coba fair, karena kebetulan waktu S3 penelitian saya di Israel, jadi saya mendalami culture-nya,” ujar wanita yang menjadi pakar militer tersebut.
Ia merujuk pada peristiwa dalam Kitab Esther di era Kekaisaran Persia, yang kini diperingati sebagai Purim.
Dalam narasi tersebut, bangsa Yahudi nyaris dimusnahkan oleh pejabat Persia bernama Haman, namun berhasil diselamatkan melalui peran Ratu Esther dan Mordechai.
“Secara budaya, secara sosiologi, apalagi keimanan, mereka merasa ini juga perang atas nama Tuhan. Karena pernah ada momen mau dimusnahkan oleh Persia,” jelasnya.
Perayaan Purim sendiri diperingati setiap 14 Adar dalam kalender Ibrani. Pada 2026, Purim jatuh pada 2–3 Maret.
Hari ini mengenang keselamatan bangsa Yahudi dari dekret pemusnahan di Kekaisaran Persia abad ke-4 SM.
Nama “Purim” berasal dari kata “pur” yang berarti undian, merujuk pada cara Haman menentukan tanggal eksekusi massal.
Menurut Connie Rahakundini Bakrie, momentum Purim memiliki resonansi simbolik yang kuat dalam konteks ketegangan modern dengan Iran yang secara historis merupakan wilayah Persia.
“Hari ini itu hari sakti bagi bangsa Israel. Ini Purim Day. Momentum ketika mereka mau dimusnahkan tapi selamat dari Persia,” katanya.
Ia juga menyinggung dinamika regional yang berubah sejak lahirnya Abraham Accords pada era Presiden Donald Trump.
Kesepakatan tersebut sempat menurunkan tensi antara Israel dan sejumlah negara Teluk. Namun kini, situasi kembali bergejolak.
Bagi Connie, memahami konflik Israel–Iran harus melihat kombinasi faktor politik global, strategi militer, hingga memori historis yang tertanam kuat.
Tanpa membaca konteks budaya seperti Purim, publik akan sulit memahami mengapa eskalasi kerap terasa eksistensial bagi Israel.
“Ini bukan sekadar perang biasa. Ada lapisan sejarah dan keyakinan yang membuat konflik ini terasa sangat mendalam bagi mereka,” pungkas Connie.***

Share this article
Connie Bakrie sebut konflik Israel-Iran punya dimensi historis & teologis dalam momen Purim. Memori upaya pemusnahan di Persia masa lalu buat eskalasi kini terasa eksistensial bagi Israel.