AYOJAKARTA.COM - Ikan sapu sapu selama ini dikenal sebagai spesies invasif yang kerap dianggap merusak ekosistem perairan.
Bahkan, ikan tersebut juga dinilai berbahaya jika dikonsumsi karena dapat memicu gangguan kesehatan.
Ikan ini sangat berisiko jika dikonsumsi karena sering hidup di perairan tercemar dan dapat mengakumulasi logam berat berbahaya (seperti timbal, kadmium, dan merkuri).
Namun di balik stigma tersebut, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru mengungkap potensi lain dari ikan sapu-sapu.

Menurut hasil penelitian, ikan sapu-sapu ini ternyata dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif hingga diolah menjadi makanan khas enak di negara Brazil.
Namun di Jakarta, ikan-ikan tersebut hidup di perairan tercemar sehingga menyerap logam berat.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto menjelaskan, ikan sapu-sapu memiliki risiko akumulasi logam berat jika ikan diambil dari sungai tercemar seperti di Jakarta.
“Ikan sapu-sapu sebenarnya sumber protein. Di Brasil, ini jadi makanan khas yang enak. Namun, karena di kita mereka hidup di perairan tercemar, mereka menyerap logam berat melalui mekanisme protein metallothionein,” ujar Triyanto, dikutip dari laman BRIN.
Berdasarkan data kesehatan, kata Triyanto, seseorang bisa terpapar dampak logam berat jika mengonsumsi delapan kilogram daging ikan sapu-sapu selama sepekan secara rutin.

Oleh sebab itu, ia mendorong ikan sapu-sapu ini dapat dimanfaatkan pada sektor non-pangan untuk mengurangi populasi aman.
Beberapa upaya yang bisa dilakukan seperti menjadi pengolahan menjadi pupuk organik cair, pakan ternak, hingga arang aktif (bio-char).
Triyanto juga mengatakan bahwa langkah pembersihan ikan sapu-sapu di Jakarta tidak akan efektif jika tidak dilakukan secara terintegrasi dengan wilayah penyangga, yakni Depok, Cibinong, dan Bekasi.
Menurutnya, ada keterkaitan aliran sungai antarwilayah yang menyebabkan pergerakan telur dan anakan ikan terus berlangsung dari hulu ke hilir.

“DKI Jakarta ini diduga sebagai daerah pembesaran. Kalau cuma dibersihkan di Jakarta tapi kota satelitnya tidak berkoordinasi, telur dan anakan ikan dari hulu akan terus masuk ke Jakarta. Ini akan jadi siklus yang tidak berhenti,” jelasnya.
Oleh sebab itu, Triyanto mengajak semua pihak agar tidak hanya fokus pada penanganan ikan sapu-sapu, tapi juga menjaga kualitas lingkungan perairan.***