AYOJAKARTA.COM -- Karena termasuk wajah baru, penampilan Dharma Pongrekun dan Pramono Anung menjadi sosok yang paling ditunggu dalam debat terbuka Pilkada Jakarta.
Beda dengan Ridwan Kamil yang sudah unggul elektabilitas di Pilkada Jakarta, penampilan Dharma Pongrekun justru sempat memperlihatkan sikap grogi di awal debat terbuka.
Menyikapi debat terbuka perdana, Dharma Pongrekun yang merupakan kontestan independen di Pilkada Jakarta idealnya bisa lebih tampil lepas tanpa beban.
Baca Juga: Siapa yang Paling Memikat Rakyat Usai Debat Perdana Pilkada Jakarta 2024? Ini Kata Pengamat Politik
Selain calon independen, perolehan suara elektabilitas Dharma Pongrekun juga relatif kecil sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Karena itu penampilan Dharma Pongrekun di awal sempat mengecewakan, meski di segmen pertengahan menunjukkan perbaikan.
Pandangan terkait performa Dharma Pongrekun di acara debat terbuka perdana tersebut, merupakan substansi pernyataan yang disampaikan oleh Hendri Satrio.
“Seharusnya dia dari awal sudah nothing to lose, karena paling kecil surveinya, karena itu seharusnya sikat saja,” ujar Hensat.
Selain Dharma Pongrekun, upaya untuk tampil maksimal juga diperlihatkan oleh Pramono Anung yang selama ini jarang terekspos ke publik.
Lantaran lebih dekat dengan Ring Istana, keberadaan Pramono ke tengah warga Jakarta membutuhkan proses ulang yang memerlukan kehati-hatian.
Meski ketiga calon gubernur telah berupaya kuat untuk menampilkan performa terbaiknya, Hensat menilai masih ada yang kurang presisi.
Untuk bisa keluar sebagai pemenang di Pilkada Jakarta, Hensat menilai setiap calon perlu mencari dukungan dan meraih simpati Gen Z.
Memiliki potensi suara yang sangat signifikan, keberhasilan cagub dalam mendapatkan legitimasi dari Gen Z bisa mengubah peta pertarungan.
Kendati keberadaan Gen Z merupakan kekuatan suara potensial, Hensat menilai ketiga kandidat masih belum sepenuhnya memiliki strategi meraih dukungan.
Generasi Z atau Gen Z yang merupakan anak-anak penerus bangsa kelahiran di rentang tahun 1997 hingga 2012, menurut Hensat merupakan figur-figur unik.
Memiliki cara pandang berbeda dengan generasi milenial yang merupakan pendahulunya, Gen Z dikenal karena sikapnya.
“Gen Z ini punya keinginan tersendiri yang sedikit-sedikit toxic, kalau ada aturan yang mengganggu Gen Z agak berbahaya,” ungkap Hensat.
Terkait dengan program yang ditawarkan para cagub peserta Pilkada Jakarta dalam debat terbuka perdana, menurut Hensat cenderung bisa membahayakan perolehan suara.
Meski tawaran kopi gratis yang direncanakan Ridwan Kamil cukup sedikit mewakili keinginan Gen Z, hal tersebut menurut Hensat masih belum sepenuhnya presisi.
Kaum Gen Z menurut Hensat senang dengan pemberian tanpa harus merasa dipusingkan dengan rangkaian peraturan-peraturan memusingkan.***