Nasional

Erupsi Gunung Semeru, Status Naik ke Level IV atau Awas, Jepang Pantau Kemungkinan Tsunami

Oleh: Admin Minggu 04 Des 2022, 15:28 WIB
Semeru Erupsi! Minggu 4 Desember 2022, Awan Panas Guguran (APG) Meluncur hingga 7 Kilometer

AYOJAKARTA.COM – Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam rilisnya menyatakan tingkat aktivitas Gunungapi Semeru dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas) menyusul terjadinya erupsi pada Minggu pagi, 4 Desember 2022.

Berikut ini siaran pers lengkap dari Kementerian ESDM setelah Gunung Semeru mengalami erupsi.

Gunung Api Semeru secara administratif terletak dalam dua kabupaten, yaitu Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Secara geografis berada pada posisi 8? 6,5' LS dan 112? 55' BT dengan tinggi puncaknya 3676 mdpl.

Gunung Api Semeru dipantau secara visual dan instrumental dari 2 Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) yang berada di Desa Sumber Wuluh Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang, serta di Desa Agrosuko, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

Baca Juga: Panglima TNI Jenderal Andika Murka: Kronologi Mayor Paspampres Perkosa Prajurit Wanita Kostrad

Baca Juga: 10 Netizen Diundang Datang Pernikahan Kaesang dan Erina Gudono

Tingkat aktivitas Gunungapi Semeru pada saat ini adalah Level III (Siaga) sejak 16 Desember 2021.

  • Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Pada tanggal 4 Desember 2022 erupsi yang disertai Awan Panas Guguran masih berlangsung menerus, dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.
  • Teramati awan panas guguran dengan jarak 12 km dari puncak dan masih terus berlangsung.
  • Asap kawah utama tidak teramati, cuaca cerah sampai mendung, gunung api tertutup kabut. Angin tenang ke selatan, tenggara, barat, barat laut, barat daya, suhu 22-28?C.
  • Jumlah dan jenis gempa yang terekam periode 4 Desember 2022 pk. 00.00 WIB - 12.00 WIB hingga didominasi oleh Gempa Awan Panas dan gempa letusan 13 kali. Amplitudo awan panas terekam 40 mm dan masih berlangsung hingga saat ini.
  • Sebaran material erupsi berupa lontaran batuan pijar diperkirakan dapat mencapai radius 8 KM dari puncak, sedangkan material lontaran berukuran abu saat ini mencapai 12 Km ke arah tenggara. Arah dan jarak sebaran material abu ini dapat berubah tergantung arah dan kecepatan angin.
  • Arah luncuran awan panas guguran dan guguran ke sektor tenggara dan selatan dari puncak. Jangkauan awan panas guguran sudah mencapai lebih dari 13 Km. Lahar dingin maupun lahar panas dapat terjadi di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak, khususnya sepanjang aliran sungai.

Hasil analisis pemantau secara visual dan kegempaan menunjukan terjadi peningkatan aktivitas, dan dinilai tingkat aktivitas G. Semeru dinaikkan dari Level III (SIAGA) menjadi Level IV (AWAS), terhitung mulai tanggal 4 Desember 2022 pukul 12.00 WIB dengan rekomendasi sebagai berikut:

  1. Mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
  2. Tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 17 km dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 19 km.
  3. Tidak beraktivitas dalam radius 8 Km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
  4. Mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat dan Kali Lanang serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
  5. Agar masyarakat tidak terpancing oleh berita-berita yang tidak bertanggungjawab mengenai aktivitas Gunung Api Semeru,dan mengikuti arahan dari Instansi yang berwenang yakni Badan Geologi yang akan terus melakukan koordinasi dengan BNPB dan K/L, Pemda, dan instansi terkait lainnya. Informasi mengenai aktivitas Gunungapi Semeru terkini dapat diperoleh melalui aplikasi/Website Magma Indonesia (www.vsi.esdm.go.id atau magma.esdm.go.id), dan media sosial PVMBG (Facebook, Twitter, dan Instagram pvmbg_).

Jepang Pantau Kemungkinan Tsunami

Akibat dari erupsi di Gunung Semeru ternyata membuat Badan Meteorologi Jepang menyelidiki kemungkinan terjadinya gelombang tsunami yang dapat melanda wilayah Jepang.

Menurut laporan media online Jepang, NHK, jika tsunami mencapai Jepang, kemungkinan akan menghantam daerah pesisir pulau-pulau di prefektur Okinawa.

Gunung Semeru, menurut catatan NHK, mengalami erupsi pada tahun lalu di bulan yang sama. Peristiwa itu menewaskan sedikitnya 48 orang.

Baca Juga: Rizal Ramli Diundang Jokowi ke Resepsi Pernikahan Kaesang dan Erina, Tapi Tak Bisa Datang, Kenapa Hayo?

Baca Juga: Begini Agenda Pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono: Kaesang Siapin Undangan Untuk Netizen Lho, Mau?

Lembaga vulkanologi Australia di Darwin memperkirakan gumpalan abu mencapai ketinggian sekitar 15 kilometer.

Badan Meteorologi Jepang mengatakan letusan terjadi pada pukul 09:18 waktu Indonesia pada Minggu. Satelit cuaca Himawari-9 mengamati penyebaran abu vulkanik.

Di artikel lainnya, NHK juga menyajikan laporan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana Jepang mem-posting gambar di media sosial yang menunjukkan gumpalan abu putih dan abu-abu membubung ke langit akibat erupsi Semeru.

Badan tersebut juga memeriksa apakah letusan tersebut telah menyebabkan tsunami yang dapat mempengaruhi Jepang.

Menurut laporan NKH, sampai saat ini tidak ada perubahan signifikan pada tingkat pasang surut yang diamati di sepanjang pantai Jepang sejauh ini.

Pejabat cuaca Jepang menambahkan bahwa tidak ada perubahan tekanan atmosfer tertentu yang diamati di Indonesia sejak letusan.

Letusan besar yang jauh terkadang dapat menyebabkan perubahan tekanan atmosfer, yang menyebabkan perubahan tingkat pasang surut.

Tetapi para pejabat di Jepang mengatakan orang-orang harus tetap mendapat informasi terbaru.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Jepang mulai merilis informasi tentang pasang surut dan tingkat tekanan atmosfer di sekitar Jepang setelah letusan gunung berapi besar yang jauh dari negara Pasifik Selatan Tonga menyebabkan perubahan seperti itu di Jepang.

Reporter Admin
Editor Eries Adlin