AYOJAKARTA.COM - Bahan bakar Bobibos tengah menjadi topik nasional setelah diklaim mampu menandingi Pertamax Turbo dengan harga hanya sekitar Rp4.000 per liter.
Klaim inilah yang membuat dua pengamat eknonomi populer, Raymond Chin dan Bennix, sama-sama mengungkapkan keraguan mereka. Meski mendukung inovasi lokal, keduanya menilai euforia publik harus diimbangi sikap kritis.
Raymond Chin menegaskan bahwa kasus ini mengingatkannya pada proyek Esemka yang sempat digadang-gadang sebagai kebangkitan industri otomotif nasional, namun akhirnya lenyap begitu saja.
Baca Juga: Biaya Produksi BOBIBOS Diklaim Rendah, Pakar Sebut Perlu Dikaji Ulang, Ini Alasannya
"Gua tuh sebenarnya agak takut Bobby Boss ini nasibnya nanti kayak SMK. Hype banget di awal, sangat dipolitisasi, tahu-tahu mobilnya gaib," ujar Raymond di chanel YouTube-nya.
Ia menilai sejumlah klaim Bobibos tampak “too good to be true,” seperti RON 98, emisi hampir nol, hingga konsumsi bahan bakar yang lebih irit dibanding Pertamax Turbo.
Raymond juga menyoroti banyaknya riset global yang menghabiskan investasi ratusan miliar dolar namun belum mampu memproduksi biofuel generasi kedua dengan harga murah.
Karena itu, ia menilai klaim harga Rp4.000 per liter sebagai “red flag” paling besar. "Semakin luar biasa klaimnya, harus semakin luar biasa juga buktinya," tegasnya.
Baca Juga: Raymond Chin Curiga Ada Kejanggalan dalam Klaim Bobibos, Minta Publik Tetap Rasional
Sementara itu, Bennix memberi respons dengan gaya satir khasnya. Ia menyebut fenomena Bobibos terlalu bombastis untuk langsung dipercaya.
"Good news, Guys. Bahan bakar ajaib akhirnya tiba di Indonesia. Turun dari langit, lebih tepatnya di Jonggol," ujarnya. Bennix mempertanyakan kejelasan bahan baku, lokasi pabrik, hingga klaim sertifikasi.
Menurutnya, jika benar semua klaim Bobibos terbukti, maka perusahaan minyak global seperti Shell atau BP pasti “ketakutan.” Bennix bahkan menyindir narasi yang terlalu heroik seputar Bobibos yang disebut-sebut mampu melampaui Pertamax Turbo dan membuat mobil listrik tak lagi laku.
"Kalau benar bisa bikin Fortuner 1 liter tembus 14 km, ini harusnya sudah dapat Nobel," ucapnya. Keraguan dua figur ini menunjukkan bahwa inovasi besar tetap membutuhkan verifikasi ilmiah mendalam.
Bobibos memang menjanjikan karena ramah lingkungan, murah, dan bahan baku dari limbah jerami. Namun para ahli mengingatkan bahwa biofuel generasi kedua secara global masih menghadapi biaya produksi tinggi.
Pada akhirnya, publik tentu berharap Bobibos nyata dan bukan sekadar euforia sesaat. Dukungan terhadap inovasi lokal penting, namun tetap harus berbasis bukti. Seperti kata Raymond Chin, "Kita harus dukung, tapi pakai otak."***