AYOJAKARTA.COM - Banjir bandang yang melanda berbagai wilayah di Sumatera sejak akhir November 2025 terus menyisakan duka yang mendalam.
Rumah-rumah warga porak-poranda, jalan-jalan terputus, dan kebutuhan dasar sulit terpenuhi. Ratusan orang telah meninggal dunia, ratusan lainnya masih dalam pencarian, sementara puluhan ribu warga terpaksa mengungsi di tempat-tempat darurat.
Situasi ini membuat Sumatera berada dalam kondisi kritis dan memerlukan bantuan cepat dari berbagai pihak. Salah satu wilayah yang mengalami kerusakan terparah adalah Aceh Tamiang.
Baca Juga: Bobibos di Ujung Pembuktian, Sudah Kantongi Dukungan dari Komisi XII DPR
Kondisi terbaru di lapangan kembali diungkap oleh aktivis sosial Ferry Irwandi, pendiri Malaka Project, yang sejak awal aktif menyalurkan bantuan ke berbagai titik terdampak bencana.
Dalam unggahan Instagram pada Jumat, 5 Desember 2025, Ferry menggambarkan keadaan Aceh Tamiang sebagai wilayah yang “semuanya hancur.”
Menurut keterangannya, Ferry yang memasuki wilayah tersebut pada sore hari melihat langsung kerusakan parah. Jembatan runtuh, jalan terputus, tiang listrik tumbang, dan hampir seluruh infrastruktur rusak berat.
"Sore ini kami masuk lebih dalam di wilayah Tamiang, dan keadaannya semakin buruk, masyarakat krisis air bersih, hilang listrik dan pencahyaan, infrastruktrur, tiang listrik, jalan, jembatan runtuh, semuanya hancur," tulis Ferry Irwandi.
Lebih memprihatinkan lagi, masyarakat mengalami krisis air bersih, ditambah listrik padam total sehingga seluruh wilayah gelap gulita. Dalam kondisi demikian, warga terpaksa mengantre untuk mendapatkan bantuan dan kebutuhan dasar.
Sebelumnya, seorang warga sempat mengirim pesan kepada Ferry bahwa warga di Tamiang sampai harus minum air bekas banjir karena kehausan.
Menanggapi hal ini, Ferry bergerak cepat. Ia berjanji berangkat subuh ke lokasi dan mencari air bersih pada malam itu juga. Usahanya membuahkan hasil ketika ia mendapatkan satu mobil tangki berisi 4.000 liter air bersih yang langsung dikirimkan ke Aceh Tamiang.
Data terbaru BNPB menyebutkan bahwa hingga 5 Desember 2025, terdapat 42 warga meninggal dunia, tiga terluka, dan satu jembatan rusak akibat banjir bandang.
Puing-puing pohon masih menumpuk di berbagai titik, menyulitkan akses mobilisasi bantuan dan evakuasi. Sebelum ke Aceh Tamiang, Ferry lebih dulu membantu korban di Langkat, Sumatera Utara, yang juga terdampak parah.
Di salah satu lokasi, ia menemukan sekitar 2.000 pengungsi terpaksa tidur di atas rel kereta api tanpa tenda, tanpa penerangan, dan tanpa fasilitas layak.
Ferry dan timnya menurunkan bantuan berupa makanan, susu, pampers, selimut, dan tenda tambahan agar para pengungsi dapat beristirahat lebih aman.
Di tengah bencana besar ini, Ferry berharap pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten bergerak lebih cepat memperbaiki bendungan jebol serta memulihkan infrastruktur penting.
Banjir ini menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan. Hanya dengan kebersamaan, pemulihan Sumatera dapat berjalan lebih cepat dan lebih kuat.***