AYOJAKARTA.COM - Inovasi bahan bakar nabati Bobibos kembali menjadi pusat perhatian publik. Di tengah hype besar, dukungan datang dari Komisi XII DPR RI yang menilai Bobibos sebagai langkah berani menuju kemandirian energi nasional.
Namun, perjalanan menuju pengakuan resmi masih panjang dan penuh tantangan. Anggota Komisi XII DPR RI, Ramson Siagian, menegaskan bahwa dukungan harus tetap diimbangi pengujian ketat.
“Setiap inovasi bagus, tapi harus dibuktikan lewat uji coba. Kualitasnya harus memenuhi standar untuk digunakan,” ujar Ramson, dilansir dari YouTube TVR Parlemen.
Ia menambahkan bahwa lembaga di bawah Kementerian ESDM punya peran penting untuk memastikan keamanan dan kelayakan BBM Bobibos sebelum digunakan publik.
Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, diklaim berasal dari 100% jerami. Formula ini dianggap dapat menekan emisi, memanfaatkan limbah sawah, dan menguatkan ekonomi desa.
Konsep “petani tersenyum dua kali” menjadi misi utama karena hasil panen dapat dijual, sementara limbah jerami menghasilkan nilai ekonomi baru.
Namun, dalam beberapa minggu terakhir, Bobibos menghadapi sorotan tajam. Lalu lintas truk yang meningkat di Lembur Pakuan membuat warga bertanya-tanya.
Pihak Bobibos pun menyampaikan permintaan maaf dan menjelaskan bahwa aktivitas itu bagian dari persiapan produksi tahap akhir.
“Bobibos segera produksi demi energi rakyat,” tulis mereka di Instagram. Meski begitu, keraguan publik belum hilang. Tuduhan menghilang, ketidakjelasan lokasi manufaktur, hingga minimnya bukti visual proses produksi masih menjadi perdebatan.
Beberapa ahli juga mempertanyakan klaim bahwa satu mesin dalam truk Fuso bisa langsung mengolah jerami menjadi bioetanol, mengingat proses fermentasi etanol umumnya memakan waktu panjang.
Di sisi lain, hasil uji lapangan menunjukkan sinyal positif. Kang Dedi Mulyadi yang menguji biofuel Bobibos pada mesin traktor diesel melaporkan tarikan lebih ringan dan emisi lebih bersih.
Baca Juga: Bobibos Klarifikasi Isu Soal Tiba-tiba Menghilang, Janji Bikin Kejutan pada 18 Desember 2025
Lemigas juga menemukan angka oktan 98,1 lebih tinggi dari banyak bensin komersial. Bobibos kini menetapkan tanggal 18 Desember 2025 sebagai momen pembuktian. Mesin pengolahan jerami akan dipresentasikan secara transparan kepada publik.
Tanggal ini menjadi titik balik, apakah Bobibos mampu menjawab semua keraguan, atau justru menjadi inovasi viral yang meredup?
Dengan dukungan DPR, tekanan publik, dan ekspektasi besar, masa depan Bobibos berada pada fase paling menentukan. Jika berhasil, Indonesia bisa mencatat sejarah baru dalam energi terbarukan. Jika gagal, hype yang besar bisa berubah menjadi kekecewaan nasional.***
Share this article
Bobibos mendapat dukungan DPR tapi diuji publik karena minim bukti produksi. Uji resmi 18 Desember jadi penentu, apakah jadi terobosan energi jerami atau sekadar hype yang meredup.