AYOJAKARTA.COM - Bobibos kembali menjadi sorotan publik setelah pihak pengelola menyampaikan permohonan maaf kepada warga Lembur Pakuan, Subang, terkait meningkatnya lalu lintas truk yang keluar-masuk wilayah tersebut.
Melalui unggahan di Instagram pada 5 Desember 2025, mereka menegaskan bahwa aktivitas itu merupakan bagian dari persiapan produksi bahan bakar nabati yang sedang memasuki tahap akhir.
“Warga Jawa Barat kami sudah tiba. Maaf jika hari-hari ini banyak truk masuk Lembur Pakuan. Bobibos segera produksi demi energi rakyat,” tulis pihak pengelola Bobibos.
Inovasi Bobibos atau Bobi Boss (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos) memang digadang sebagai lompatan besar dalam energi terbarukan berbasis jerami.
Dengan memanfaatkan limbah pertanian yang biasa dibakar pasca-panen, Bobibos ingin membuat petani “tersenyum dua kali” yakni mendapatkan hasil panen sekaligus mendapatkan nilai ekonomi dari limbah jeraminya.
Teknologi Bobibos pernah diuji langsung oleh Kang Dedi Mulyadi menggunakan mesin traktor diesel di Lembur Pakuan. Hasilnya, mesin berjalan optimal dengan tarikan lebih ringan dan emisi yang lebih bersih.
Uji laboratorium resmi oleh Lemigas juga menunjukkan angka oktan tinggi, yakni 98,1 atau setara bahkan melampaui beberapa jenis bensin komersial.
Baca Juga: Bobibos Klarifikasi Isu Soal Tiba-tiba Menghilang, Janji Bikin Kejutan pada 18 Desember 2025
Potensi ekonominya pun sangat besar. Dengan rasio konversi mencapai 3.000 liter per hektar, wilayah Lembur Pakuan yang memiliki potensi 1.000 hektar bisa menghasilkan jutaan liter bahan bakar.
Selain itu, proses pengolahan jerami juga memunculkan produk turunan seperti pakan ternak dan pupuk, menciptakan siklus ekonomi berkelanjutan berbasis desa.
Namun di tengah optimisme itu, Bobibos tak lepas dari kontroversi. Sebelumnya, publik ramai mempertanyakan keberadaan tim dan progres pembuatan mesin pengolahan jerami.
Rumor “menghilang”, tuduhan penipuan, hingga keraguan soal teknologi sempat mencuat. Menjawab hal ini, Bobibos menegaskan bahwa mereka tidak pernah menghilang dan tengah menyelesaikan manufaktur mesin yang dijanjikan untuk dipasang di Lembur Pakuan.
Baca Juga: Apa Itu Bioetanol E100? Bahan Bakar dari Aren yang Disebut-sebut jadi Pesaing BOBIBOS
Kritik muncul terkait minimnya bukti visual proses produksi dan ketidakjelasan lokasi manufaktur. Beberapa ahli juga mempertanyakan klaim bahwa mesin dalam satu truk Fuso dapat mengolah jerami menjadi bioetanol instan, mengingat secara ilmiah produksi etanol memerlukan fermentasi panjang.
Menanggapi tekanan tersebut, Bobibos menetapkan tenggat waktu yakni mesin akan dipresentasikan pada 18 Desember 2025. Tanggal ini menjadi momentum penting untuk menjawab keraguan publik, sekaligus memastikan keberlanjutan kolaborasi dengan Kang Dedi Mulyadi yang sejak awal memberi dukungan besar.
Publik kini menanti pembuktian. Jika Bobibos berhasil, ini dapat menjadi tonggak besar energi rakyat. Namun jika tidak, proyek ini berisiko masuk daftar inovasi viral yang meredup sebelum sempat bersinar.***

Share this article
Bobibos minta maaf soal truk di Lembur Pakuan, klaim siap produksi biofuel jerami, uji coba berhasil, tapi publik masih meragukan teknologi dan menunggu pembuktian 18 Desember.